JARINGAN PEMASARAN PRODUK
HORTIKULTURA DI DESA LOSARI KECAMATAN SUMOWONO KABUPATEN SEMARANG
Disusun
oleh :
Martha
caesaratih 12020110110011
Hani
Agustina. P 12020110110036
Rici
Pratam 12020110120031
Surya
Sandy 12020110130071
Asep Syawaludin C2B008009
ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2012
.BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam
pembangunan pertanian subsektor hortikultura yang meliputi komoditas sayuran
dan buah merupakan salah satu sumber perolehan devisa yang cukup penting.
Misalnya selama tahun 1980-2000 nilai ekspor sayuran dan buah menyumbang
sekitar 12 - 17 persen nilai ekspor bahan pangan yang dihasilkan oleh sektor
pertanian dan sektor perikanan. Namun akhir-akhir ini kinerja perdagangan
hortikultura tersebut cenderung memburuk
ditunjukkan oleh semakin banyaknya impor buah dan sayuran. Kondisi ini
jelas akan merugikan para petani hortikultura. Hal ini mengungkapkan bahwa daya
saing agribisnis hortikultura cenderung melemah akhir-akhir ini. Secara empirik
kemampuan bersaing suatu sistem agribisnis pada dasarnya ditunjukkan oleh
kemampuan dalam memproduksi dan memasarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan
dan preferensi konsumen.
Agribisnis
komoditas pertanian pada umumnya merupakan suatu system yang sedikitnya
melibatkan tiga pelaku utama yaitu : produsen atau petani, pelaku pemasaran
atau pedagang, dan konsumen. Hubungan antara produsen dan konsumen biasanya
“dijembatani” oleh pelaku pemasaran atau
pedagang yang mempertemukannya dalam suatu system pasar. Ini dilakukan pedagang
melalui pemasokan produk menurut tempat, waktu,
dan kualitas yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen dan penawaran
yang dilakukan petani. Berdasarkan hal tersebut maka dalam kegiatannya pedagang
sebenarnya memiliki dua peran yaitu sebagai konsumen antara yang dihadapi
petani, dan sebagai produsen antara yang dihadapi konsumen.
Banyak pendapat yang mengungkapkan bahwa
masalah pengembangan agribisnis hortikultura pada umumnya lebih terletak pada
aspek di luar usahatani (off-farm) daripada aspek usahatani (on-farm)
karena kendala pengembangan agribisnis hortikultura lebih banyak dijumpai pada
aspek penanganan pasca panen dan pemasaran (Irawan, 2003). Oleh karena itu
kebijakan pembangunan hortikultura yang hanya difokuskan pada aspek produksi
atau usahatani belum mampu mendorong pertumbuhan agribisnis hortikultura secara
berkelanjutan selama permasalahan off-farm belum dapat diatasi.
Banyak
petani yang memanfaatkan jasa pengepul untuk mendistribusikan produk
hortikulturanya agar dapat dikonsumsi para konsumen. Misalnya saja petani di Kabupaten Bandungan.
Mereka lebih memilih untuk mendistribusikan produknya melalui pengepul lalu
pengepul tersebut menjualnya ke pasar- pasar di kota besar dengan harga yang
relative lebih mahal dari harga yang dia bayarkan ke petani hortikultura
tersebut. Hal itu dikarenakan jasa angkut yang mahal. Kondisi pasar seperti disebutkan di atas
tidak menguntungkan bagi petani karena harga yang diterima petani akan
dikendalikan oleh para pengepul. Pada kondisi pasar tersebut petani cenderung
menerima harga yang rendah akibat perilaku pedagang yang berusaha memaksimumkan
keuntungannya. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pemasaran
komoditas dengan sistem seperti itu tidak efisien karena kepentingan petani
sebagai produsen dapat dirugikan.Dan hal ini juga akan merugikan konsumen
karena konsumen akan membeli produk hortikultura dengan harga yang lebih mahal.
B.
Permasalahan
:
1. Bagaimana
jaringan pemasaran produk hortikultura di Kabupaten Semarang?
2. Apa
saja faktor yang menyebabkan petani hortikultura di Kabupaten Semarang
cenderung merugi?
C.
Tujuan
:
1. Untuk
mengetahui bagaimana jaringan pemasaran produk hortikultura di Kabupaten
Semarang
2. Untuk
mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan petani hortikultura di Kabupaten
Semarang cenderung merugi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Tanaman Hortikultura
Hortikultura berasal dari kata “horotos” yang memiliki makna kebun,
sedangkan kultura berasal dari kata
“colere”, yang memiliki arti mengusahakan atau membudidayakan. Kemudian dua
kata tersebut digabungkan menjadi hortikultura yang memiliki arti kemampuan
untuk membudidayakan atau mengusahakan sayur – sayuran, tanaman hias, dan
tanaman buah – buahan. Membudidayakan meliputi cara bercocok tanam, pemupukan,
perawatan, serta pengendalian hama dan penyakit.
Sumber : Anneahira, tanaman-hortikultura.
Beberapa ciri tanaman
hortikultura adalah mempunyai sifat – sifat khas sebagai berikut :
1. Tanaman
hortikultura mudah atau cepat mengalami kebusukan. Meskipun demikian, tanaman
hortikultura selalu dibutuhkan setiap hari dalam kondisi yang segar. Dari
pemesanan hingga pemasaran tanaman hortikultura memerlukan penanganan yang
cermat dan efisien. Penanganan yang baik akan meningkatkan kualitas dan harga
pasar.
2. Tanaman
hortikultura memiliki nilai estetika yang tinggi. Hal ini membuat hasil tanaman
hortikultura harus memenuhi keinginan masyarakat secara umum. Padahal keinginan
yang terlalu tinggi dari masyarakat terkadang terbentur dengan kondisi
lingkungan tempat tumbuhnya tanaman tersebut. Tanamna hortikultura sangat
tergantung pada cuacah. Apalagi bila berhadapan dengan serangan hama dan
penyakit. Tentu ini adalah tantangan besar
bagi kemajuan IPTEK dan keterampilan seni.
3. Produksi
hasil tanaman hortikultura pada umumnya musiman. Sebagaian hasil tanamannya
tidak tersedia sepanjang tahun. Contoh nhasil tanaman tersebut adalah buah
mangga, buah durian, dan buah rambutan.
4. Karena
akan dipanen dalam skala besar tanaman hortikultura juga memerlukan luas lahan
atau kebun yang luas. pemanenan yang banyak menyebabkan biaya distribusi juga
menjadi besar. Hal ini berpengaruh pada harga dipasaran.
5. Tanaman
hortikultura memiliki daerah penanaman dengan kondisi dan keadaan yang
spesifik. Tidak pada sembarang tempat. Ada tanaman yang hanya cocok ditanam di
pegunungan seperti apel dan kentang. Namun ada pula yang berasal dari daerah
tertentu seperti duku palembang, jeruk garut, mangga indramayu dan nanas
palembang.
Sumber : Anneahira,
tanaman-hortikultura.
Jenis
Tanaman Hortikultura
Tabel
1. Jenis Tanaman Hortikultura
Sumber
: Dinas Pertanian Kab.Semarang
Keadaan
Usaha Hortikultura Di Indonesia
1. Usaha
mempunyai lahan terbatas. Sebagian tanaman dibudidayakan dipekarangan.
2. Masyarakat
masih menggunakan cara tradisional untuk budidaya. Ada yang memperoleh bibit
ala kadarnya sehingga tidak sesuai dengan kondisi lingkungan. Hal ini juga
tercermin dalam pemupukan dan pemberantasan hama.
Sumber
: Anneahira, tanaman-hortikultura.
Organisasi
Hortikultura Indonesia
1. Asosiasi
pemasar hortikultura (ASPERTI)
2. Asosiasi
ekspor sayur dan buah Indonesia (ASEBSI)
3. Asosiasi
ekspor hortikultura Indonesia (AEKI)
4. Asosiasi
produsen perbenihan hortikultura Indonesia (Hortindo)
5. Asosiasi
pengusaha hortikultura Indonesia (APHI)
6. Perhimpunan
hortikultura Indonesia (PERHORTI)
Sumber : Anneahira,
tanaman-hortikultura.
Berbagai
Kendala Budidaya Tanaman Hortikultura
Menurut beberapa penelitian yang bisa dituliskan,
diantaranya :
1. Sebagian
besar mutu produk hasil tanaman hortikultura di Indonesia masih perlu
ditingkatkan. Sebagian negara agraris, kualitas produk dinegeri ini masih
dikalahkan thailand.
2. Daerah
tropis mempunyai keuntungan dan kerugian. Salah satu kerugiannya adalah
serangan hama dan penyakit dengan durasi waktu yang lama. Karena perbedaan
cuacah di musim kemarau dan hujan tidak terlalu ekstrim. Hal ini butuh
penanganan khusus dari para ahli untuk memperbaiki jumlah produksi hasil
hortikultura.
3. Beberapa
buah dan sayuran di negeri ini mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan
dari negara lain. Tentu ini sebuah pekerjaan rumah untuk meningkatkan bobot dan
ukuran hasil hortikultura, sehingga produksi lokal tidak kalah oleh produk
impor.
4. Tekstur
yang memikat, bentuk yang proporsional hingga warna yang mengundang selera
masih belum mewarnai sebagian besar produk hortikultura negeri ini.
5. Seringkali
ketika memakan sayuran segar seperti wortel atau kacang panjang, kita merasa
“langu” yang luar biasa, sehingga enggan untuk mengkonsumsi sayuran segar. Rasa
tersebut timbul akibat akumulasi pestisida di lahan pertanian. Hasil panen yang
bebas dari residu pestisida seperti tanaman organik, perlu diingatkan. Selain
membuat petani lebih sejahtera, juga menyehatkan bagi konsumen khususnya
mayarakat kelas bawah.
B.
Pengertian
Pemasaran
Pemasaran adalah
sejumlah kegiatan bisnis yang tujuan utamanya adalah untuk memberikan kepuasan
kepada konsumen dari barang atau jasa yang ditawarkan. Dengan harapan barang
atau jasa tersebut sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen.
Pemasaran
pertanian berarti kegiatan bisnis dimana menjual produk berupa komoditas
pertanian sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, dengan harapan
konsumen akan puas dengan mengkonsumsi komoditas tersebut. Pemasaran pertanian
dapat mencakup perpindahan barang atau produk pertanian dari produsen kepada
konsumen akhir, baik input ataupun produk pertanian itu sendiri.
Pemasaran pertanian
tidak bisa lepas dari prinsip hukum ekonomi. Dalam hukum ekonomi dikatakan
bahwa harga suatu produk dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu permintaan
pasar, mutu produksi, tingkat kegunaan atau olahan ( bahan mentah, setengah
jadi, jadi dan siap dikonsumsi ), kemampuan serta daya beli konsumen,
distribusi, promosi dan situasi politik.
Ada 3 komponen dalam pemasaran
agribisnis, yaitu :
1. Pasar agribisnis, dimana
tempat terjadinya interaksi antara penjual dan pembeli komoditas pertanian, sehingga
dalam pasar ini bisa terjadi kesepakatan nilai, jumlah produk, spesifikasi
produk, cara pengiriman dan pembayaran.
2. Pemasar agribisnis adalah
seseorang yang mencari barang pertanian atau sebagai jasa perdagangan, dimana
barang pertanian tersebut ditawarkan atau dipasarkan ke konsumen. Pemasar
agribisnis dapat berfungsi sebagai pembeli atau penjual.
3. Pemasaran agribisnis adalah
sejumlah kegiatan bisnis yang ditujukan untuk memberi kepuasan dari barang
komoditi atau jasa perdagangan komoditi tersebut kepada konsumen.
Perbedaan pandangan
1. Pandangan
tradisional, yaitu kegiatan pemasaran yang lebih menekankan bagaimana cara
menghasilkan produk dan menjual produknya saja.
2. Pandangan
saat kompetitif, yaitu kegiatan pemasaran yang memperhatikan pemilihan konsep
berdasarkan pada selera konsumen, dan mewujudkan konsep dengan mengembangkan
produk serta mengkomunikasikan konsep dengan promosi intensif.
3.
Fungsi
pemasaran
1.
Pembeli dan pengpulan
2.
Pemilihan atau sortasi
3.
Penyimpanan
4.
Penanganan pasca panen
5.
Pengangkutan
6.
Pembiayaan
7.
Informasi pasar
8.
Promosi
9.
Resiko
Prinsip – prinsip pemasaran :
1. Produk
2. Harga
3. Promosi
4. Distribusi
5. Selera
masyarakat
Aspek yang harus diperhatikan dalam jaringan pemasaran tanaman
hortikultura :
1. Sifat
komoditi yang mudah membusuk sehingga beresiko tinggi
2. Kelembagaan
pemasaran
a. sub
terminal agribisnis ( di sentra produsen ),
b. terminal
agribisnis atau pasar induk ( di sentra
konsumen ),
c. pasar
tani ( pasar yang mendekat ke konsumen ) dan
d. pasar
lelang.
3. Pengguna
atau konsumen seperti, pasar grosir,
pasar tradisional atau pasar modern, catering atau resto atau hotel, rumah
sakit, industri atau pabrikan, eksportir dan rumah tangga.
4. Pendukung
seperti, sortasi, pengepakan, ruang pendingin, gudang, informasi pasar, jasa
keuangan, dan jasa transportasi.
Kelembagaan pemasaran
Kelembagaan pembanguan
pertanian yang kuat sangat diperlukan agar tercipta iklim yang mempu mendorong
terpenuhinya syarat mutlak
dan syarat pelancar bagi pembangunan
pertanian.
a.
sub terminal agribisnis
menurut badan agribisnis Departemen Pertanian (2000 ). STA merupakan
infrastruktur pemasaran untuk transaksi jual beli hasil – hasil pertanian, baik
untuk transaksi fisik ( lelang, langganan, pasar spot) maupun non fisik (
kontrak, pesananan, future market). STA diharapkan berfungsi pula untuk
pembinaan peningkatan mutu produksi sesuai dengan permintaan pasar, pusat
informasi, promosi dan tempat latihan atau magang dalam upaya pengembangan
peningkatan sumberdaya manusia.
b.
Terminal agribisnis atau pasar induk
Pengertian pasar induk adalah suatu tempat sebagai pemusatan pedagang
pedagang besar atau grosir yang mempunyai peranan aktif dalam pemasaran barang
barang yang sesuai dengan jenis komoditi, dengan jalan mengatur suplai,
pembentukan harga sesuai dengan permmintaan. Satu pasar induk akan membawahi
atau terdiri atas beberapa pasar bawahan.
Berbagai permasalahan dan isu yang biasa
dihadapi dalam pemasaran hasil agribisnis adalah :
1.
Belum cukupnya
infrastruktur pasar berupa jalan, pelabuhan, fasilitas penyimpanan, pengemas-an
dan pengolahan.
2.
Terjadinya kehilangan
pasca panen atau pemasaran akibat penanganan dan pengemasan yang tidak sesuai.
3.
Kurang tepatnya grading
(pengkelasan) serta standarisasi produk-produk hasil panenan.
4.
Terjadinya ketidak
stabilan harga akibat pengaruh musim produksi dan kondisi pasar.
5.
Tidak adanya mekanisme
penentuan harga yang berlaku.
6.
Tidak cukupnya informasi
pemasaran khususnya dalam rangkaian pengum-pulan, analisa dan penyebarluasan
informasi yang relevan.
7.
Langkanya kegiatan
penelitian dan studi pemasaran.
8.
Sulitnya akses petani
kecil pada kredit pemasaran.
9.
Langkanya jasa perluasan
pasar yang memadai.
10. Kurangnya dukungan pemerintah dalam kebijakan dan
pengemba-ngan pasar.
c. Pasar Tani
Pasar tani adalah tempat berkumpulnya
petani produsen untuk menjual langsung produknya. Merupakan paradigma pertanian
yang semula hanya sebagai produsen diubah menjadi pemasok atau supplier. Suatu
proses pembelajaran bagi petani produsen yang aktivitasnya hanya seminggu
sekali.
d. Pasar Lelang
pasar
lelang merupakan sarana bertemunya penjual atau petani produsen dan pembeli
atau pedagang atau pabrikan secara langsung dimana pembentukan harga yang
terjadi dilakukan secara transparan tanpa ada kolusi antar pelaku usaha dan
tanpa tekanan dari pihak manapun.
Sesuai
dengan karakteristik dan kebutuhan, pasar lelang yang dikembangkan dibangun
dalam dua bentuk yaitu :
1. Pasar
lelang spot , dimana penjual langsung membawa
komoditas yang akan dijual ke pasar lelang,
2. Pasar lelang forward (penyerahan barang
dan penyelesaian kemudian) dimana penjual cukup membawa contoh komoditas dengan
spesipikasi produk yang akan dijual ke pasar lelang, pasar lelang forward
tersebut merupakan pasar fisik karena adanya kewajiban menyerahkan barang
secara fisik sesuai dengan harga, kwalitas, kuantitas dan waktu penyerahan yang
disepakati dalam kontrak jual beli.
Strategi Pengembangan Jaringan
Pemasaran
1.
Jalinan ke hulu ( backward linkage ) secara kontinyu
dengan dua cara. Cara yang pertama,
jalinan kemitraan dengan gapoktan atau poktan mengenai ketersediaan multi
komoditas agar menjamin keberlanjutan bisnisnya.yang kedua dengan cara,
kepastian pasar yang akan membentuk jalinan sebagai pelanggan.
2.
Jalinan ke depan ( forward linkage ) untuk kepastian
pasar dengan dua cara. Cara yang pertama, dengan melayani pembeli secara
langsung, yang kedua dengan cara menciptakan ikatan dengan pedagang besar atau
supermarket ( kontrak atau lelang ).
3.
Jalinan horizontal antara STA atau pelaku usaha untuk
menjamin kontinyuitas
Dua Jaringan Pemasaran
1.
Vertikal ( dari produsen sampai konsumen)
2.
Horizontal ( antar kelembagaan untuk memenuhi jumlah
volume yanng diinginkan ).
C.
Pengertian
Distribusi Produk Pertanian
Distribusi adalah pergerakan produk dari tahap mendapatkan sumberdaya sampai
keproses produksi dan ke penjualan akhir. Distribusi produk merupakan suatu
proses penambahan nilai mulai dari pengalihan bahan baku ke produsen, ke
pedagang perantara dan akhirnya kekonsumen akhir. Distribusi dari produk
pertanian dari produsen ke konsumen memerlukan alat transportasi baik darat,
laut, maupun udara. Alat transportasi juga mempengaruhi kualitas produk
pertanian yang diperdagangkan.
Saluran distribusi adalah rute suatu
produk yang mengalir dari penyedia bahan mentah melalui produsen sampai
konsumen akhir. Saluran ini melibatkan lembaga atau pedagang perantara yang
memasarkan produk atau barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Sepanjang
saluran distribusi terjadi beragam pertukaran produk, pembayaran, kepemilikan
dan informasi. Saluran distribusi diperlukan karena produsen menghasilkan
produk dengan memberikan kegunaan bentuk
atau form utility bagi konsumen sedangkan lembaga penyalur membentuk
atau memberikan kegunaan waktu, tempat dan kepemilikan produk kepada konsumen. Penentuan harga ditentukan oleh
biaya produksi, pengolahan, pengemasan,
transportasi, promosi dan keuntungan.
Gambar
1. Tahapan proses distribusi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Jenis
dan Rancangan Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah observasi menggunakan metode pendekatan survei lapangan
dan studi literatur. Observasi dilakukan untuk mendapatkan data primer yang
sesuai dengan kondisi dilapangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat
hubungan antara hasil pertanian dengan jaringan distribusi pada tanaman
hortikultura didesa losari kecamatan sumowono kabupaten semarang.
B.
Populasi
dan sample
1.
Populasi
Populasi studi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah petani hortikultura dan pedagang sayuran di pasar yang berada diwilayahdesa losari kecamatan
sumowono kabupaten semarang.
2.
Sample
Sample dalam penelitian ini adalah dua orang
petani hortikultura yang berada di wilayah kabupaten semarang yang memiliki
luas tanah 2000 m² dengan jenis tanaman hortikultura seperti, wortel, tomat,
kubis, bacai, cabe dan daun bawang dan 2 orang pedagang sayuran besar dan seorang pedagang sayuran eceran . Sample
diambil dengan mengunakan metode acak sederhana.
C.
Definisi
Oprasional
Untuk memperoleh kesamaan pengertian
dalam penelitian ini, maka definisi operasional dari variabel penelitian adalah
sebagai berikut :
1. Bibit
adalah benih atau jenis varitas tanaman yang dianggap bagus dengan kriteria
tertentu untuk ditanam. Bibit yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit saset yang dibuat sendiri dari kubis
yang tidak laku terjual dengan satuan hitung per kilogram (kg).
2. Modal
adalah adalah uang yang dipakai sebagai pokok ( induk ) untuk
melakukan suatu usaha. Dalam hal ini adalah usaha bertani. Satuan hitung yang
digunakan dalam permodalan ini adalah jutaan
rupiah.
3. Luas
tanah adalah luas lahan yang digunakan untuk proses produksi atau untuk menanam
tanaman hortikultura. Satuan yang digunakan dalam menghitung loas tanah adalah
meter kubik (m2).
4. Tenaga
kerja adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih)
yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa. Dalam penelitian ini yang
dimaksud dengan tenaga kerja adalah petani atau orang yang berpartisipasi dalam
kegiatan pertanian.
5. Jam
kerja adalah berapa lama waktu yang dicurahkan oleh pekerja dalam proses
produksi.dalam penelitian ini jam kerja yang berlaku mulai pukul 07.00 – 12.00 lau istirahat dan
mulai kembali pukul 13.00 – 17.00 WIB.
6. Variasi
hasil tanaman adalah ragam tanaman hortikultura yang mampu dihasilkan oleh
petani dalam satu areal lahan tanam dalam kurun waktu yang bersamaan.
7.
Pemasaran tanaman hortikultura
adalah proses cara pembuatan dan memasarkan suatu barang dagangan atau
menyalurkan dari produsen ke konsumen dalam hal ini barang dagangan tersebut
adalah tanaman hortikultura khususnya sayur - sayuran.
8. Harga jual tanaman hortikultura adalah
kompensasi berupa uang maupun barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah
barang hasil pertanian tanaman hortikultura.
D.
Pengumpulan
Data
1. Pengumpulan
data primer
Pengumpulan data primer diambil dengan
cara wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang meliputi :
a. Pada
petani tanaman hortikultura: jenis bibit
dan cara memperolehnya, luas lahan yang di kelola, cara perolehan modal, banyak
tenaga kerja, jam kerja, dan variasi hasil tanaman hortikultura.
b. Pada
tengkulak atau pengepul : daerah pengambilan sayuran di daerah bandungan
kabupaten semarang.
c. Pedagang
besar sayuran : penjual sayuran dengan skala besar di kabupaten semarang.
d. Pedagang
kecil sayuran : penjual sayuran dengan skala kecil dikabupaten semarang.
2. Pengumpulan
data sekunder
Data
sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari artikel, dan jurnal –
jurnal ilmiah yang bersumber dari internet.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Gambaran
Umum Daerah Penelitian
1.
Gambaran Umum
Wilayah kecamatan
Sumowono memiliki Luas Area 55.63 ha dan
memiliki ketinggian 900 meter
diatas permukaan laut serta memiliki Koordinat 7.22427046565556,110.29514074707. sebelah utara wilayah kecamatan
sumowono berbatasan dengan Kota Semarang, dan Kabupaten Kendal. Pada
bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Temanggung, dan Kecamatan Jambu,
pada bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Temanggung.
Sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Bandungan, dan Kecamatan Jambu. Kecamatan sumowono terdiri
dari 5 Dusun: Dusun Nyampuran, Dusun Sukorono, Dusun Kenteng, Dusun Karang
Wetan dan Dusun Sawah Gondang.
2.
Pola
Pemasaran dan Kemitraan Komoditi Sayuran
Komoditi Cabai Merah
Pola pemasaran cabai merah sangat berfluktuasi baik
menurut musim, bulan, maupun hari. Musim panen raya pada umumnya terjadi pada
bulan juli dan agustus dan mencapai puncak pada bulan November terutama satu
minggu sebelum lebaran. Sedang pada bulan-bulan selain tersebut diatas panen
cabai merah relative normal. Dengan demikian panen dapat berlangsung sepanjang
tahun karena pola tanam di daerah penelitian tidak serempak. Pola perdagangan
cabai merah juga sangat bervariasi antar tingkat pedagang. Pada pedagang kecil
di bulan-bulan normal dapat mencapai volume jual antara 50-80 kg/hari. Sedang
pada bulan-bulan puncak mencapai volume 200 - 300kg. bentuk-bentuk kesepakatan
antara tengkulak dengan petani cabai merah antara lain:
1. Petani
harus menjual produk pertanian/cabai merah kepada tengkulak dengan harga yang
telah ditentukan.
2. Tengkulak
membeli produk pertanian/cabai merah dari petani dengan harga lebih rendah dari
harga pasar. Ini merupakan keuntungan dari tengkulak.
Komoditi Kubis
Tengkulak membeli kubis dari petani dengan volume
pembelian sekitar 25-50kg beserta komoditi yang lain seperti tomat, cabai merah
dan jagung, selanjutnya dijual ke pasar atau konsumen. Pada umumnya tengkulak ini membeli kubis dari petani baik secara
kiloan atau borongan. Selain dijual ke pedagang pengecer komoditi kubis lebih
banyak dijual ke pedagang pengumpul. Dari pedagang pengumpul dikoordinir
kembali oleh agen dan selanjutnya dipasarkan didalam negeri atau diekspor.
Stabilitas
Harga Sayuran di Tingkat Konsumen dan Produsen
Harga produk di tingkat konsumen yang berfluktuasi
secara tajam tidak menguntungkan bagi petani karena hal itu menyebabkan ketidak
pastian penerimaan yang diperoleh dari kegiatan usaha taninya. Resiko usaha
yang dihadapi petani akan semakin tinggi jika harga produk yang dihadapi
semakin berfluktuasi. Fluktuasi harga tersebut pada dasarnya terjadi akibat
ketidak seimbangan antara volume permintaan dan penawaran dimana tingkat harga
meningkat jika volume permintaan melebihi penawaran dan sebaliknya. Karena
volume permintaan relative konstan dalam jangka pendek maka fluktuasi harga
jangka pendek dapat dikatakan merupakan akibat dari ketidak mampuan produsen
dalam mengatur penawarannya yang sesuai dengan kebutuhan permintaan.
Posisi tawar petani sayuran dalam pembentukan harga
lebih endah dibandingkan petani komoditi pangan lainnya. Gejala demikian dapat
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
a) komoditi
sayuran secara umum relative cepat mengalami pembusukan dibandingkan komoditi
pangan lainnya. Konsekuensinya adalah petani sayuran tidak dapat menahan atau
menyimpan sayurannya dalam jangka waktu yang cukup lama untuk menunggu harga
jual yang lebih tinggi karena hal itu dapat menurunkan harga jual akibat
penurunan kualitas produk.
b) kebutuhan
modal tunai pada usaha tani sayuran relative tinggi sementara lembaga
perkreditan formal sangat jarang yang menyalurkan kreditnya kepada petani
sayuran. Kondisi demikian menyebabkan petani harus segera menjual produksinya
setelah panen akibat desakan kebutuhan modal untuk musim tanam berikutnya.
c) jika
tersedia peralatan penyimpanan dan efektif dalam memperlambat proses pembusukan
maka petani sebenarnya dapat menyimpan produksinya lebih lama untuk menunggu
harga jual lebih tinggi. Namun peralatan tersebut belum banyak tersedia karena
pembangunan komoditi hortikultura selama ini lebih ditekankan pada aspek
produksi.
3.
Hasil Observasi
Responden pertama (Bapak bowo) adalah salah seorang petani
hortikultura di Desa Losari Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Beliau
mempunyai tanah seluas 2000m2 dan ditanami
beberapa macam produk hortikultura, diantaranya : cabai merah, tomat,
kol, wortel, buncis, bacai, daun bawang, pisang, dan alpukat. Untuk meningkat
hasil produksi petani menggunakan bibit sachet atau bibit dari kubis tidak laku
terjual. Pak bowo juga menggunakan pupuk dari kotoran ayam dan pestisida semi
organik. Pak bowo mempekerjakan buruh tani sebanyak 3-4 orang dengan biaya
tenaga kerja sebesar Rp. 30.000/hari untuk buruh tani laki-laki dengan
pekerjaan memupuki dan mencangkul. Untuk buruh tani wanita biasa dibayar dengan
upah Rp. 24.000/hari dengan pekerjaan bersih-bersih lahan, mengambil rumput.
Sekali panen pak bowo dapat menjual
produknya ke pengepul / tengkulak dengan harga :
Tabel 2.1. Harga Jual Tanaman
Hortikultura Dari Petani
Komoditi
|
Harga Jual / Kg
|
Cabe merah
|
Rp. 18.000
|
Kubis
|
Rp. 1.000
|
Wortel
|
Rp. 300
|
Tomat
|
Rp. 4.000
|
Buncis
|
Rp. 1.500
|
Daun bawang
|
Rp. 1.500
|
Untuk
pemasaran pak bowo harus membayar sebanyak Rp 5000/50-60kg. Pada musim hujan
pak bowo dan para tenaga kerja harus sering menyemprot tanaman agar tidak
terjadi gagal panen. akibat curah hujan
harga produk hortikultura menjadi sangat murah. Untuk satu kali panen untuk kol
kurang lebih 4 ciklon bak. Pak bowo menjual hasil produknya ke pengepul dan
pengepul yang menetapkan harga setiap produknya. Lalu pengepul menjual hasil
panen tersebut ke pasar ngasem sumowono dengan harga yang lebih tinggi.
Pak
bowo juga menanam buah-buahan diantaranya pisang dan alpukat. Ia memanfaatkan
lahan di sekitar rumah seluas 5 are. Ia dapat menjual alpukat sebsar
Rp.7000/kg.
Untuk
kegiatan off farm pak bowo juga beternak kelinci. Ia mempunyai 130 ekor
kelinci.
Responden kedua
( Bapak Bambang) adalah seorang pengepul atau seorang tengkulak didaerah
bandungan. Pak Bambang sudah bekerja menjadi tengkulak atau pengepul selama ±10
tahun. Beliau menjual kembali sayuran – sayuran yang dibelinya kebeberapa
tempat didaerah semarang diantaranya ke pasar jimbaran, pasar ngasem dan
beberapa pasar didaerah pudak payung, banyumanik, dan kota semarang. Pak
Bambang menjual kembali sayuran – sayuran yang telah dibelinya dengan harga
yang telah ditambahkan dengan keuntungannya untuk sayuran – sayuran dengan
kualitas baik pak Bambang menjualnya dengan harga sebagai berikut :
Tabel 2.2. Harga Jual Tanaman
Hortikultura Dari Tengkulak
Komoditi
|
Harga Jual / Kg
|
Cabe merah
|
Rp. 20.000
|
Kubis
|
Rp. 2.000
|
Wortel
|
Rp. 3.000
|
Tomat
|
Rp. 4.500
|
Buncis
|
Rp. 5.000
|
Daun bawang
|
Rp. 5.000
|
Responden ketiga ( Ibu Isrof) adalah
seorang pedagang besar sayuran di pasar jati banyumanik. Ibu Isrof ± 20 tahun
menjadi seorang pedagang sayuran. Sayuran yang dijualnya diperoleh dari
beberapa tengkulak atau pengepul didaerah bandungan. Ibu Isrof membeli sayuran
– sayuran dari para tengkulak dibandungan pada pukul 03.00 WIB dinihari karena
ia harus berjualan dipasar jati pada pukul 05.00 WIB. Keuntungan ibu Isrof dari
selisih antara harga beli dengan harga yang dijualnya namun keuntungan tidak
tentu karena harga sayuran yang fluktuatif sehingga sulit untuk memprediksikan
keuntungannya. Haga jual yang diberikan pada masing – masing komoditi sayuran
adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2. Harga Jual Tanaman Hortikultura
Dari Pedagang Besar
Komoditi
|
Harga Jual / Kg
|
Cabe merah
|
Rp. 23.000
|
Kubis
|
Rp. 3.000
|
Wortel
|
Rp. 5.000
|
Tomat
|
Rp. 5.500
|
Buncis
|
Rp. 6.000
|
Daun bawang
|
Rp. 7.000
|
Responden keempat ( Ibu Pariyem ) adalah
seorang pedagang kecil / eceran sayuran di baskoro Tembalang. Bu Pariyem
membeli sayuran dagangannya dari pasar peterongan. Harga jual untuk setiap
komoditi sayuran adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2. Harga Jual Tanaman
Hortikultura Dari Pedagang kecil
Komoditi
|
Harga Jual / Kg
|
Cabe merah
|
Rp. 23.000
|
Kubis
|
Rp. 4.000
|
Wortel
|
Rp. 5.500
|
Tomat
|
Rp. 6.000
|
Buncis
|
Rp. 6.500
|
Daun bawang
|
Rp. 7.000
|
4.
Pembahasan
Sesuai dengan
tujuan penelitian yang dibahas dalam bab ini adalah adanya hubungan antara
pemasaran dan harga jual pada tanaman hortikultura. Data yang dianalisis adalah data sekunder
dan data hasil observasi dilapangan yang diharapkan dapat memberikan penjelasan
tentang pemasaran dan harga jual dari hasil tanaman hortikultura tersebut.
Berdasarkan pengamatan hasil observasi lapangan ada hubungan yang erat antara
pemasaran, pengepul dan penentuan harga. Petani tidak dapat memasarkan hasil
produk tanaman hortikultura secara langsung kepada konsumen tetapi harus
melalui pengepul. Harga yang diperoleh berdasarkan ketentuan dari pengepul
dalam hal ini petani berlaku sebagai price taker dan pengepul sebagai price
maker. Harga yang diberikan kepada petani sesuai dengan kualitas dari hasil
pertanian dan kondisi dipasar. Bila cuacah buruk biasanya harga produk
pertanian dihargai lebih tinggi karena dinilai langka atau sulit untuk
mendapatkannya, sedangkan apabila cuacah baik produk pertanian dihargai rendah
sesuai dengan kualitas produk pertanian tersebut. Petani tidak dapat menentukan
harga karena hasil produk pertanian khususnya tanaman hortikultura merupakan
tanaman yang mudah busuk sehingga besar resiko yang ditanggung bila produk
pertanian tersebut tidak terjual pada hari itu. Sehingga petani akan
memilih menjual hasil produk pertanian
dengan harga yang rendah atau murah dari pada produk tersebut membusuk dan
tidak laku karena biaya produksi yang cukup tinggi sehingga bila petani tidak
menjual maka ia akan merugi. Kurangnya lembaga atau organisasi pendukung petani
juga merupakan salah satu penyebab mengapa harga pertanian menjadi rendah
karena tidak ada pendukung petani untuk meningkatkan harga hasil dari produk
pertanian tanaman hortikultura.
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pertanian di desa losari masih menggunakan teknologi
yang tradisional tetapi tidak mengurangi kualitas untuk hasil pertanian itu
sendiri. Dengan alat yang cukup dan pemeliharaan yang baik, maka hasil yang
didapat menjadi baik pula. Pada dasarnya tanah dan pengairan di desa losari
sudah cukup memadai untuk jenis produk holtikultura, dengan tanah yang subur
dan pengairan yang lancar. Untuk pemasaran para petani memanfaatkan jasa para
pengepul, padahal hal tersebut sangat merugikan petani, karena patokan harga
dari tengkulak sangat rendah. Namun pada kenyataannya para pengepul menjual
produk ke pasar dengan harga yang tinggi. Hal ini di sebabkan biaya
pengangkutan yang mahal, sehingga laba yang diterima petani sangat minim dan
petani sangat sulit untuk medapatkan modal.
B.
SARAN
Pertanian di desa ini sudah bagus, tetapi hasil
penelitian kami menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan
diperbaiki dalam upaya meningkatkan mutu dan
kualitas produktivitasdan
keuntungan usaha pertanian holtikultura diantaranya:
1. Di
adakannya penyuluhan yang berkesinambungan
2. Penambahan
alat – alat yang modern agar dapat meningkatkan perduktivitas
3. Pemeliharaan
yang maksimal harus diupayakan dan dikontrol terhadap proses pembudidayaan
4. Mendorong
peran tengkulak untuk membangun kerja sama yang adil dan peduli petani.
5. Mengadakan
outlet yang dapat kunjungi konsumen secara langsung .
6. Merealisasikan
subsidi pertanian yang tepat sasaran dan bersifat produktif
7. Mendorong
peran lembaga keungan untuk masuk sektor pertanian dengan skema yang
menguntungkan petani.
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.anneahira.com/tanaman-hortikultura.htm
. “Seputar Tanaman
Hortikultura.” Dalam Cyber anneahira. Diunduh Senin, 7 Mei
2012
Sito,
Jakes. 2011. “Permasaran Hasil Pertanian.”
Dalam Cyber Wordpress.
Diunduh Senin, 7 Mei 2012 .
http://id.wikipedia.org/wiki/Hortikultura . “Pengertian Tanaman Hortikultura. ”
Dalam Wikipedia. Diunduh Selasa, 8 Mei
2012
http://ukmdiy.co.id/Files/pasar%20lelang.pdf . “komoditas argobisnis dari ladang
petani.” Diunduh Selasa, 8 Mei 2012
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/367/jbptunikompp-gdl-diahcitran-18325-2-babii.pdf . Diunduh
selasa, 8 Mei 2012.
Handi Irawan. 2003. Manajemen Pemasaran. Bandung: Djaslim Saladin, Intisari
Pemasaran
Lampiran 1
Tabel 2.3. perbandingan
harga jual tanaman hortikultura antara petani, tengkulak, pedagang besar serta
pedagang kecil / eceran
Komoditi
|
Petani
|
Tengkulak
|
Pedagang
besar
|
Pedagang kecil / eceran
|
Cabe merah
|
Rp.18.000
|
Rp. 20.000
|
Rp. 23.000
|
Rp. 23.000
|
Kubis (kol)
|
Rp. 1.000
|
Rp. 2.000
|
Rp. 3.000
|
Rp. 4.000
|
Wortel
|
Rp. 300
|
Rp. 3.000
|
Rp. 5.000
|
Rp. 5.500
|
Tomat
|
Rp. 4.000
|
Rp. 4.500
|
Rp. 5.500
|
Rp. 6.000
|
Buncis
|
Rp. 1.500
|
Rp. 5.000
|
Rp. 6.000
|
Rp. 6.500
|
Daun bawang
|
Rp. 1.500
|
Rp. 5.000
|
Rp. 7.000
|
Rp. 7.000
|



Tidak ada komentar:
Posting Komentar