have fun together

have fun together
sister

Sabtu, 30 Juni 2012

riset pertanian


JARINGAN PEMASARAN PRODUK HORTIKULTURA DI DESA LOSARI KECAMATAN SUMOWONO KABUPATEN SEMARANG
Disusun oleh :
Martha caesaratih           12020110110011
Hani Agustina. P            12020110110036
Rici Pratam                    12020110120031
Surya Sandy                   12020110130071
Asep  Syawaludin                  C2B008009

ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2012




.BAB I
PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Dalam pembangunan pertanian subsektor hortikultura yang meliputi komoditas sayuran dan buah merupakan salah satu sumber perolehan devisa yang cukup penting. Misalnya selama tahun 1980-2000 nilai ekspor sayuran dan buah menyumbang sekitar 12 - 17 persen nilai ekspor bahan pangan yang dihasilkan oleh sektor pertanian dan sektor perikanan. Namun akhir-akhir ini kinerja perdagangan hortikultura tersebut cenderung memburuk  ditunjukkan oleh semakin banyaknya impor buah dan sayuran. Kondisi ini jelas akan merugikan para petani hortikultura. Hal ini mengungkapkan bahwa daya saing agribisnis hortikultura cenderung melemah akhir-akhir ini. Secara empirik kemampuan bersaing suatu sistem agribisnis pada dasarnya ditunjukkan oleh kemampuan dalam memproduksi dan memasarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen.
            Agribisnis komoditas pertanian pada umumnya merupakan suatu system yang sedikitnya melibatkan tiga pelaku utama yaitu : produsen atau petani, pelaku pemasaran atau pedagang, dan konsumen. Hubungan antara produsen dan konsumen biasanya “dijembatani” oleh pelaku  pemasaran atau pedagang yang mempertemukannya dalam suatu system pasar. Ini dilakukan pedagang melalui pemasokan produk menurut tempat, waktu,  dan kualitas yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen dan penawaran yang dilakukan petani. Berdasarkan hal tersebut maka dalam kegiatannya pedagang sebenarnya memiliki dua peran yaitu sebagai konsumen antara yang dihadapi petani, dan sebagai produsen antara yang dihadapi konsumen.
             Banyak pendapat yang mengungkapkan bahwa masalah pengembangan agribisnis hortikultura pada umumnya lebih terletak pada aspek di luar usahatani (off-farm) daripada aspek usahatani (on-farm) karena kendala pengembangan agribisnis hortikultura lebih banyak dijumpai pada aspek penanganan pasca panen dan pemasaran (Irawan, 2003). Oleh karena itu kebijakan pembangunan hortikultura yang hanya difokuskan pada aspek produksi atau usahatani belum mampu mendorong pertumbuhan agribisnis hortikultura secara berkelanjutan selama permasalahan off-farm belum dapat diatasi.
            Banyak petani yang memanfaatkan jasa pengepul untuk mendistribusikan produk hortikulturanya agar dapat dikonsumsi para konsumen.  Misalnya saja petani di Kabupaten Bandungan. Mereka lebih memilih untuk mendistribusikan produknya melalui pengepul lalu pengepul tersebut menjualnya ke pasar- pasar di kota besar dengan harga yang relative lebih mahal dari harga yang dia bayarkan ke petani hortikultura tersebut. Hal itu dikarenakan jasa angkut yang mahal.  Kondisi pasar seperti disebutkan di atas tidak menguntungkan bagi petani karena harga yang diterima petani akan dikendalikan oleh para pengepul. Pada kondisi pasar tersebut petani cenderung menerima harga yang rendah akibat perilaku pedagang yang berusaha memaksimumkan keuntungannya. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pemasaran komoditas dengan sistem seperti itu tidak efisien karena kepentingan petani sebagai produsen dapat dirugikan.Dan hal ini juga akan merugikan konsumen karena konsumen akan membeli produk hortikultura dengan harga yang lebih mahal.
B.     Permasalahan :

1.      Bagaimana jaringan pemasaran produk hortikultura di Kabupaten Semarang?
2.      Apa saja faktor yang menyebabkan petani hortikultura di Kabupaten Semarang cenderung merugi?

C.    Tujuan :

1.      Untuk mengetahui bagaimana jaringan pemasaran produk hortikultura di Kabupaten Semarang
2.      Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan petani hortikultura di Kabupaten Semarang cenderung merugi

BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA

A.    Pengertian Tanaman Hortikultura

Hortikultura berasal dari kata “horotos” yang memiliki makna kebun, sedangkan kultura berasal dari kata “colere”, yang memiliki arti mengusahakan atau membudidayakan. Kemudian dua kata tersebut digabungkan menjadi hortikultura yang memiliki arti kemampuan untuk membudidayakan atau mengusahakan sayur – sayuran, tanaman hias, dan tanaman buah – buahan. Membudidayakan meliputi cara bercocok tanam, pemupukan, perawatan, serta pengendalian hama dan penyakit.
Sumber : Anneahira, tanaman-hortikultura.

Beberapa ciri tanaman hortikultura adalah mempunyai sifat – sifat khas sebagai berikut :

1.      Tanaman hortikultura mudah atau cepat mengalami kebusukan. Meskipun demikian, tanaman hortikultura selalu dibutuhkan setiap hari dalam kondisi yang segar. Dari pemesanan hingga pemasaran tanaman hortikultura memerlukan penanganan yang cermat dan efisien. Penanganan yang baik akan meningkatkan kualitas dan harga pasar.
2.      Tanaman hortikultura memiliki nilai estetika yang tinggi. Hal ini membuat hasil tanaman hortikultura harus memenuhi keinginan masyarakat secara umum. Padahal keinginan yang terlalu tinggi dari masyarakat terkadang terbentur dengan kondisi lingkungan tempat tumbuhnya tanaman tersebut. Tanamna hortikultura sangat tergantung pada cuacah. Apalagi bila berhadapan dengan serangan hama dan penyakit.  Tentu ini adalah tantangan besar bagi kemajuan IPTEK dan keterampilan seni.
3.      Produksi hasil tanaman hortikultura pada umumnya musiman. Sebagaian hasil tanamannya tidak tersedia sepanjang tahun. Contoh nhasil tanaman tersebut adalah buah mangga, buah durian, dan buah rambutan.
4.      Karena akan dipanen dalam skala besar tanaman hortikultura juga memerlukan luas lahan atau kebun yang luas. pemanenan yang banyak menyebabkan biaya distribusi juga menjadi besar. Hal ini berpengaruh pada harga dipasaran.
5.      Tanaman hortikultura memiliki daerah penanaman dengan kondisi dan keadaan yang spesifik. Tidak pada sembarang tempat. Ada tanaman yang hanya cocok ditanam di pegunungan seperti apel dan kentang. Namun ada pula yang berasal dari daerah tertentu seperti duku palembang, jeruk garut, mangga indramayu dan nanas palembang.
Sumber : Anneahira, tanaman-hortikultura.























Jenis Tanaman Hortikultura
Tabel 1. Jenis Tanaman Hortikultura
Sumber : Dinas Pertanian Kab.Semarang           


Keadaan Usaha Hortikultura Di Indonesia

1.      Usaha mempunyai lahan terbatas. Sebagian tanaman dibudidayakan dipekarangan.
2.      Masyarakat masih menggunakan cara tradisional untuk budidaya. Ada yang memperoleh bibit ala kadarnya sehingga tidak sesuai dengan kondisi lingkungan. Hal ini juga tercermin dalam pemupukan dan pemberantasan hama.
Sumber : Anneahira, tanaman-hortikultura.

Organisasi Hortikultura Indonesia

1.       Asosiasi pemasar hortikultura (ASPERTI)
2.       Asosiasi ekspor sayur dan buah Indonesia (ASEBSI)
3.       Asosiasi ekspor hortikultura Indonesia (AEKI)
4.       Asosiasi produsen perbenihan hortikultura Indonesia (Hortindo)
5.       Asosiasi pengusaha hortikultura Indonesia (APHI)
6.       Perhimpunan hortikultura Indonesia (PERHORTI)
Sumber : Anneahira, tanaman-hortikultura.

Berbagai Kendala Budidaya Tanaman Hortikultura

Menurut beberapa penelitian yang bisa dituliskan, diantaranya :
1.      Sebagian besar mutu produk hasil tanaman hortikultura di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Sebagian negara agraris, kualitas produk dinegeri ini masih dikalahkan thailand.
2.      Daerah tropis mempunyai keuntungan dan kerugian. Salah satu kerugiannya adalah serangan hama dan penyakit dengan durasi waktu yang lama. Karena perbedaan cuacah di musim kemarau dan hujan tidak terlalu ekstrim. Hal ini butuh penanganan khusus dari para ahli untuk memperbaiki jumlah produksi hasil hortikultura.
3.      Beberapa buah dan sayuran di negeri ini mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dari negara lain. Tentu ini sebuah pekerjaan rumah untuk meningkatkan bobot dan ukuran hasil hortikultura, sehingga produksi lokal tidak kalah oleh produk impor.
4.      Tekstur yang memikat, bentuk yang proporsional hingga warna yang mengundang selera masih belum mewarnai sebagian besar produk hortikultura negeri ini.
5.      Seringkali ketika memakan sayuran segar seperti wortel atau kacang panjang, kita merasa “langu” yang luar biasa, sehingga enggan untuk mengkonsumsi sayuran segar. Rasa tersebut timbul akibat akumulasi pestisida di lahan pertanian. Hasil panen yang bebas dari residu pestisida seperti tanaman organik, perlu diingatkan. Selain membuat petani lebih sejahtera, juga menyehatkan bagi konsumen khususnya mayarakat kelas bawah.


B.     Pengertian Pemasaran

Pemasaran adalah sejumlah kegiatan bisnis yang tujuan utamanya adalah untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dari barang atau jasa yang ditawarkan. Dengan harapan barang atau jasa tersebut sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen.

Pemasaran pertanian berarti kegiatan bisnis dimana menjual produk berupa komoditas pertanian sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, dengan harapan konsumen akan puas dengan mengkonsumsi komoditas tersebut. Pemasaran pertanian dapat mencakup perpindahan barang atau produk pertanian dari produsen kepada konsumen akhir, baik input ataupun produk pertanian itu sendiri.

Pemasaran pertanian tidak bisa lepas dari prinsip hukum ekonomi. Dalam hukum ekonomi dikatakan bahwa harga suatu produk dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu permintaan pasar, mutu produksi, tingkat kegunaan atau olahan ( bahan mentah, setengah jadi, jadi dan siap dikonsumsi ), kemampuan serta daya beli konsumen, distribusi, promosi dan situasi politik.
Ada 3 komponen dalam pemasaran agribisnis, yaitu :
1. Pasar agribisnis, dimana tempat terjadinya interaksi antara penjual dan pembeli komoditas pertanian, sehingga dalam pasar ini bisa terjadi kesepakatan nilai, jumlah produk, spesifikasi produk, cara pengiriman dan pembayaran.
2. Pemasar agribisnis adalah seseorang yang mencari barang pertanian atau sebagai jasa perdagangan, dimana barang pertanian tersebut ditawarkan atau dipasarkan ke konsumen. Pemasar agribisnis dapat berfungsi sebagai pembeli atau penjual.
3. Pemasaran agribisnis adalah sejumlah kegiatan bisnis yang ditujukan untuk memberi kepuasan dari barang komoditi atau jasa perdagangan komoditi tersebut kepada konsumen.
Perbedaan pandangan
1.      Pandangan tradisional, yaitu kegiatan pemasaran yang lebih menekankan bagaimana cara menghasilkan produk dan menjual produknya saja.
2.      Pandangan saat kompetitif, yaitu kegiatan pemasaran yang memperhatikan pemilihan konsep berdasarkan pada selera konsumen, dan mewujudkan konsep dengan mengembangkan produk serta mengkomunikasikan konsep dengan promosi intensif.
3.       
Fungsi pemasaran
1.      Pembeli dan pengpulan
2.      Pemilihan atau sortasi
3.      Penyimpanan
4.      Penanganan  pasca panen
5.      Pengangkutan
6.      Pembiayaan
7.      Informasi pasar
8.      Promosi
9.      Resiko
Prinsip – prinsip pemasaran :
1.      Produk
2.      Harga
3.      Promosi
4.      Distribusi
5.      Selera masyarakat
Aspek yang harus diperhatikan dalam jaringan pemasaran tanaman hortikultura :
1.      Sifat komoditi yang mudah membusuk sehingga beresiko tinggi
2.      Kelembagaan pemasaran
a.       sub terminal agribisnis ( di sentra produsen ),
b.      terminal agribisnis atau pasar induk  ( di sentra konsumen ),
c.       pasar tani ( pasar yang mendekat ke konsumen ) dan
d.      pasar lelang.
3.      Pengguna atau  konsumen seperti, pasar grosir, pasar tradisional atau pasar modern, catering atau resto atau hotel, rumah sakit, industri atau pabrikan, eksportir dan rumah tangga.
4.      Pendukung seperti, sortasi, pengepakan, ruang pendingin, gudang, informasi pasar, jasa keuangan, dan jasa transportasi.


Kelembagaan pemasaran
Kelembagaan pembanguan pertanian yang kuat sangat diperlukan agar tercipta iklim yang mempu mendorong terpenuhinya syarat mutlak dan syarat pelancar bagi pembangunan  pertanian.
a.       sub terminal agribisnis
menurut badan agribisnis Departemen Pertanian (2000 ). STA merupakan infrastruktur pemasaran untuk transaksi jual beli hasil – hasil pertanian, baik untuk transaksi fisik ( lelang, langganan, pasar spot) maupun non fisik ( kontrak, pesananan, future market). STA diharapkan berfungsi pula untuk pembinaan peningkatan mutu produksi sesuai dengan permintaan pasar, pusat informasi, promosi dan tempat latihan atau magang dalam upaya pengembangan peningkatan sumberdaya manusia.
b.      Terminal agribisnis atau pasar induk
Pengertian pasar induk adalah suatu tempat sebagai pemusatan pedagang pedagang besar atau grosir yang mempunyai peranan aktif dalam pemasaran barang barang yang sesuai dengan jenis komoditi, dengan jalan mengatur suplai, pembentukan harga sesuai dengan permmintaan. Satu pasar induk akan membawahi atau terdiri atas beberapa pasar bawahan.
Berbagai permasalahan dan isu yang biasa dihadapi dalam pemasaran hasil agribisnis adalah :
1.      Belum cukupnya infrastruktur pasar berupa jalan, pelabuhan, fasilitas penyimpanan, pengemas-an dan pengolahan. 
2.      Terjadinya kehilangan pasca panen atau pemasaran akibat penanganan dan pengemasan yang tidak sesuai. 
3.      Kurang tepatnya grading (pengkelasan) serta standarisasi produk-produk hasil panenan. 
4.      Terjadinya ketidak stabilan harga akibat pengaruh musim produksi dan kondisi pasar. 
5.      Tidak adanya mekanisme penentuan harga yang berlaku. 
6.      Tidak cukupnya informasi pemasaran khususnya dalam rangkaian pengum-pulan, analisa dan penyebarluasan informasi yang relevan. 
7.      Langkanya kegiatan penelitian dan studi pemasaran. 
8.      Sulitnya akses petani kecil pada kredit pemasaran. 
9.      Langkanya jasa perluasan pasar yang memadai. 
10.  Kurangnya dukungan pemerintah dalam kebijakan dan pengemba-ngan pasar. 
c.       Pasar Tani
Pasar tani adalah tempat berkumpulnya petani produsen untuk menjual langsung produknya. Merupakan paradigma pertanian yang semula hanya sebagai produsen diubah menjadi pemasok atau supplier. Suatu proses pembelajaran bagi petani produsen yang aktivitasnya hanya seminggu sekali.
d.      Pasar Lelang
pasar lelang merupakan sarana bertemunya penjual atau petani produsen dan pembeli atau pedagang atau pabrikan secara langsung dimana pembentukan harga yang terjadi dilakukan secara transparan tanpa ada kolusi antar pelaku usaha dan tanpa tekanan dari pihak manapun.

Sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan, pasar lelang yang dikembangkan dibangun dalam dua bentuk yaitu :
1.      Pasar lelang spot , dimana penjual langsung membawa komoditas yang akan dijual ke pasar lelang,
2.       Pasar lelang forward (penyerahan barang dan penyelesaian kemudian) dimana penjual cukup membawa contoh komoditas dengan spesipikasi produk yang akan dijual ke pasar lelang, pasar lelang forward tersebut merupakan pasar fisik karena adanya kewajiban menyerahkan barang secara fisik sesuai dengan harga, kwalitas, kuantitas dan waktu penyerahan yang disepakati dalam kontrak jual beli.


Strategi Pengembangan Jaringan Pemasaran
1.      Jalinan ke hulu ( backward linkage ) secara kontinyu dengan dua cara. Cara  yang pertama, jalinan kemitraan dengan gapoktan atau poktan mengenai ketersediaan multi komoditas agar menjamin keberlanjutan bisnisnya.yang kedua dengan cara, kepastian pasar yang akan membentuk jalinan sebagai pelanggan.
2.      Jalinan ke depan ( forward linkage ) untuk kepastian pasar dengan dua cara. Cara yang pertama, dengan melayani pembeli secara langsung, yang kedua dengan cara menciptakan ikatan dengan pedagang besar atau supermarket ( kontrak atau lelang ).
3.      Jalinan horizontal antara STA atau pelaku usaha untuk menjamin kontinyuitas
Dua Jaringan Pemasaran
1.      Vertikal ( dari produsen sampai konsumen)
2.      Horizontal ( antar kelembagaan untuk memenuhi jumlah volume yanng diinginkan ).

C.    Pengertian Distribusi Produk Pertanian
Distribusi adalah pergerakan produk dari tahap mendapatkan sumberdaya sampai keproses produksi dan ke penjualan akhir. Distribusi produk merupakan suatu proses penambahan nilai mulai dari pengalihan bahan baku ke produsen, ke pedagang perantara dan akhirnya kekonsumen akhir. Distribusi dari produk pertanian dari produsen ke konsumen memerlukan alat transportasi baik darat, laut, maupun udara. Alat transportasi juga mempengaruhi kualitas produk pertanian yang diperdagangkan.
Saluran distribusi adalah rute suatu produk yang mengalir dari penyedia bahan mentah melalui produsen sampai konsumen akhir. Saluran ini melibatkan lembaga atau pedagang perantara yang memasarkan produk atau barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Sepanjang saluran distribusi terjadi beragam pertukaran produk, pembayaran, kepemilikan dan informasi. Saluran distribusi diperlukan karena produsen menghasilkan produk dengan memberikan kegunaan bentuk  atau form utility bagi konsumen sedangkan lembaga penyalur membentuk atau memberikan kegunaan waktu, tempat dan kepemilikan produk kepada konsumen. Penentuan harga  ditentukan oleh biaya produksi, pengolahan, pengemasan,  transportasi, promosi dan keuntungan.
Gambar 1. Tahapan proses distribusi


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah observasi menggunakan metode pendekatan survei lapangan dan studi literatur. Observasi dilakukan untuk mendapatkan data primer yang sesuai dengan kondisi dilapangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara hasil pertanian dengan jaringan distribusi pada tanaman hortikultura didesa losari kecamatan sumowono kabupaten semarang. 


B.     Populasi dan sample

1.      Populasi
Populasi studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah petani hortikultura dan pedagang sayuran di pasar  yang berada diwilayahdesa losari kecamatan sumowono  kabupaten semarang.
2.       Sample
Sample dalam penelitian ini adalah dua orang petani hortikultura yang berada di wilayah kabupaten semarang yang memiliki luas tanah 2000 m² dengan jenis tanaman hortikultura seperti, wortel, tomat, kubis, bacai, cabe dan daun bawang dan 2 orang pedagang sayuran besar dan  seorang pedagang sayuran eceran . Sample diambil dengan mengunakan metode acak sederhana.



C.     Definisi Oprasional
Untuk memperoleh kesamaan pengertian dalam penelitian ini, maka definisi operasional dari variabel penelitian adalah sebagai berikut :
1.      Bibit adalah benih atau jenis varitas tanaman yang dianggap bagus dengan kriteria tertentu untuk ditanam. Bibit yang digunakan dalam penelitian ini adalah  bibit saset yang dibuat sendiri dari kubis yang tidak laku terjual dengan satuan hitung per kilogram (kg).
2.      Modal adalah adalah uang yang dipakai sebagai pokok ( induk ) untuk melakukan suatu usaha. Dalam hal ini adalah usaha bertani. Satuan hitung yang digunakan dalam permodalan ini adalah jutaan  rupiah.
3.      Luas tanah adalah luas lahan yang digunakan untuk proses produksi atau untuk menanam tanaman hortikultura. Satuan yang digunakan dalam menghitung loas tanah adalah meter kubik (m2).
4.      Tenaga kerja adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih) yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah petani atau orang yang berpartisipasi dalam kegiatan pertanian.
5.      Jam kerja adalah berapa lama waktu yang dicurahkan oleh pekerja dalam proses produksi.dalam penelitian ini jam kerja yang berlaku  mulai pukul 07.00 – 12.00 lau istirahat dan mulai kembali pukul 13.00 – 17.00 WIB.
6.      Variasi hasil tanaman adalah ragam tanaman hortikultura yang mampu dihasilkan oleh petani dalam satu areal lahan tanam dalam kurun waktu yang bersamaan.
7.      Pemasaran tanaman hortikultura adalah proses cara pembuatan dan  memasarkan suatu barang dagangan atau menyalurkan dari produsen ke konsumen dalam hal ini barang dagangan tersebut adalah tanaman hortikultura khususnya sayur - sayuran.
8.      Harga jual tanaman hortikultura adalah kompensasi berupa uang maupun barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah barang hasil pertanian tanaman hortikultura.
D.    Pengumpulan Data

1.      Pengumpulan data primer

Pengumpulan data primer diambil dengan cara wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang meliputi :
a.       Pada petani  tanaman hortikultura: jenis bibit dan cara memperolehnya, luas lahan yang di kelola, cara perolehan modal, banyak tenaga kerja, jam kerja, dan variasi hasil tanaman hortikultura.
b.      Pada tengkulak atau pengepul : daerah pengambilan sayuran di daerah bandungan kabupaten semarang.
c.       Pedagang besar sayuran : penjual sayuran dengan skala besar di kabupaten semarang.
d.      Pedagang kecil sayuran : penjual sayuran dengan skala kecil dikabupaten semarang.

2.      Pengumpulan data sekunder
Data sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari artikel, dan jurnal – jurnal ilmiah yang bersumber dari internet.

                                                                                                              







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A.    Gambaran Umum Daerah Penelitian

1.      Gambaran Umum
            Wilayah kecamatan Sumowono memiliki Luas Area 55.63 ha dan memiliki ketinggian 900 meter diatas permukaan laut serta memiliki Koordinat 7.22427046565556,110.29514074707. sebelah utara wilayah kecamatan sumowono berbatasan dengan Kota Semarang, dan Kabupaten Kendal. Pada bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Temanggung, dan Kecamatan Jambu, pada bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Temanggung. Sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Bandungan, dan  Kecamatan Jambu. Kecamatan sumowono terdiri dari 5 Dusun: Dusun Nyampuran, Dusun Sukorono, Dusun Kenteng, Dusun Karang Wetan dan Dusun Sawah Gondang. 
2.      Pola Pemasaran dan Kemitraan Komoditi Sayuran
Komoditi Cabai Merah
Pola pemasaran cabai merah sangat berfluktuasi baik menurut musim, bulan, maupun hari. Musim panen raya pada umumnya terjadi pada bulan juli dan agustus dan mencapai puncak pada bulan November terutama satu minggu sebelum lebaran. Sedang pada bulan-bulan selain tersebut diatas panen cabai merah relative normal. Dengan demikian panen dapat berlangsung sepanjang tahun karena pola tanam di daerah penelitian tidak serempak. Pola perdagangan cabai merah juga sangat bervariasi antar tingkat pedagang. Pada pedagang kecil di bulan-bulan normal dapat mencapai volume jual antara 50-80 kg/hari. Sedang pada bulan-bulan puncak mencapai volume 200 - 300kg. bentuk-bentuk kesepakatan antara tengkulak dengan petani cabai merah antara lain:
1.      Petani harus menjual produk pertanian/cabai merah kepada tengkulak dengan harga yang telah ditentukan.
2.      Tengkulak membeli produk pertanian/cabai merah dari petani dengan harga lebih rendah dari harga pasar. Ini merupakan keuntungan dari tengkulak. 

Komoditi Kubis

Tengkulak  membeli kubis dari petani dengan volume pembelian sekitar 25-50kg beserta komoditi yang lain seperti tomat, cabai merah dan jagung, selanjutnya dijual ke pasar atau konsumen. Pada umumnya tengkulak  ini membeli kubis dari petani baik secara kiloan atau borongan. Selain dijual ke pedagang pengecer komoditi kubis lebih banyak dijual ke pedagang pengumpul. Dari pedagang pengumpul dikoordinir kembali oleh agen dan selanjutnya dipasarkan didalam negeri atau diekspor.

Stabilitas Harga Sayuran di Tingkat Konsumen dan Produsen
Harga produk di tingkat konsumen yang berfluktuasi secara tajam tidak menguntungkan bagi petani karena hal itu menyebabkan ketidak pastian penerimaan yang diperoleh dari kegiatan usaha taninya. Resiko usaha yang dihadapi petani akan semakin tinggi jika harga produk yang dihadapi semakin berfluktuasi. Fluktuasi harga tersebut pada dasarnya terjadi akibat ketidak seimbangan antara volume permintaan dan penawaran dimana tingkat harga meningkat jika volume permintaan melebihi penawaran dan sebaliknya. Karena volume permintaan relative konstan dalam jangka pendek maka fluktuasi harga jangka pendek dapat dikatakan merupakan akibat dari ketidak mampuan produsen dalam mengatur penawarannya yang sesuai dengan kebutuhan permintaan.
Posisi tawar petani sayuran dalam pembentukan harga lebih endah dibandingkan petani komoditi pangan lainnya. Gejala demikian dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
a)      komoditi sayuran secara umum relative cepat mengalami pembusukan dibandingkan komoditi pangan lainnya. Konsekuensinya adalah petani sayuran tidak dapat menahan atau menyimpan sayurannya dalam jangka waktu yang cukup lama untuk menunggu harga jual yang lebih tinggi karena hal itu dapat menurunkan harga jual akibat penurunan kualitas produk.
b)      kebutuhan modal tunai pada usaha tani sayuran relative tinggi sementara lembaga perkreditan formal sangat jarang yang menyalurkan kreditnya kepada petani sayuran. Kondisi demikian menyebabkan petani harus segera menjual produksinya setelah panen akibat desakan kebutuhan modal untuk musim tanam berikutnya.
c)      jika tersedia peralatan penyimpanan dan efektif dalam memperlambat proses pembusukan maka petani sebenarnya dapat menyimpan produksinya lebih lama untuk menunggu harga jual lebih tinggi. Namun peralatan tersebut belum banyak tersedia karena pembangunan komoditi hortikultura selama ini lebih ditekankan pada aspek produksi.     

3.      Hasil Observasi
Responden pertama  (Bapak bowo) adalah salah seorang petani hortikultura di Desa Losari Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Beliau mempunyai tanah seluas 2000m2 dan ditanami  beberapa macam produk hortikultura, diantaranya : cabai merah, tomat, kol, wortel, buncis, bacai, daun bawang, pisang, dan alpukat. Untuk meningkat hasil produksi petani menggunakan bibit sachet atau bibit dari kubis tidak laku terjual.  Pak bowo juga menggunakan  pupuk dari kotoran ayam dan pestisida semi organik. Pak bowo mempekerjakan buruh tani sebanyak 3-4 orang dengan biaya tenaga kerja sebesar Rp. 30.000/hari untuk buruh tani laki-laki dengan pekerjaan memupuki dan mencangkul. Untuk buruh tani wanita biasa dibayar dengan upah Rp. 24.000/hari dengan pekerjaan bersih-bersih lahan, mengambil rumput.
Sekali panen pak bowo dapat menjual produknya ke pengepul / tengkulak dengan harga :
Tabel 2.1. Harga Jual Tanaman Hortikultura Dari Petani
Komoditi
Harga Jual / Kg
Cabe merah
Rp. 18.000
Kubis
Rp.   1.000
Wortel
Rp.      300
Tomat
Rp.   4.000
Buncis
Rp.   1.500
Daun bawang
Rp.   1.500

Untuk pemasaran pak bowo harus membayar sebanyak Rp 5000/50-60kg. Pada musim hujan pak bowo dan para tenaga kerja harus sering menyemprot tanaman agar tidak terjadi gagal panen.  akibat curah hujan harga produk hortikultura menjadi sangat murah. Untuk satu kali panen untuk kol kurang lebih 4 ciklon bak. Pak bowo menjual hasil produknya ke pengepul dan pengepul yang menetapkan harga setiap produknya. Lalu pengepul menjual hasil panen tersebut ke pasar ngasem sumowono dengan harga yang lebih tinggi.
Pak bowo juga menanam buah-buahan diantaranya pisang dan alpukat. Ia memanfaatkan lahan di sekitar rumah seluas 5 are. Ia dapat menjual alpukat sebsar Rp.7000/kg.
Untuk kegiatan off farm pak bowo juga beternak kelinci. Ia mempunyai 130 ekor kelinci.


Responden kedua ( Bapak Bambang) adalah seorang pengepul atau seorang tengkulak didaerah bandungan. Pak Bambang sudah bekerja menjadi tengkulak atau pengepul selama ±10 tahun. Beliau menjual kembali sayuran – sayuran yang dibelinya kebeberapa tempat didaerah semarang diantaranya ke pasar jimbaran, pasar ngasem dan beberapa pasar didaerah pudak payung, banyumanik, dan kota semarang. Pak Bambang menjual kembali sayuran – sayuran yang telah dibelinya dengan harga yang telah ditambahkan dengan keuntungannya untuk sayuran – sayuran dengan kualitas baik pak Bambang menjualnya dengan harga sebagai berikut :
Tabel 2.2. Harga Jual Tanaman Hortikultura Dari Tengkulak
Komoditi
Harga Jual / Kg
Cabe merah
Rp. 20.000
Kubis
Rp.   2.000
Wortel
Rp.   3.000
Tomat
Rp.  4.500
Buncis
Rp.  5.000
Daun bawang
Rp.  5.000

Responden ketiga ( Ibu Isrof) adalah seorang pedagang besar sayuran di pasar jati banyumanik. Ibu Isrof ± 20 tahun menjadi seorang pedagang sayuran. Sayuran yang dijualnya diperoleh dari beberapa tengkulak atau pengepul didaerah bandungan. Ibu Isrof membeli sayuran – sayuran dari para tengkulak  dibandungan pada pukul 03.00 WIB dinihari karena ia harus berjualan dipasar jati pada pukul 05.00 WIB. Keuntungan ibu Isrof dari selisih antara harga beli dengan harga yang dijualnya namun keuntungan tidak tentu karena harga sayuran yang fluktuatif sehingga sulit untuk memprediksikan keuntungannya. Haga jual yang diberikan pada masing – masing komoditi sayuran adalah sebagai berikut       :
Tabel 2.2. Harga Jual Tanaman Hortikultura Dari Pedagang Besar
Komoditi
Harga Jual / Kg
Cabe merah
Rp. 23.000
Kubis
Rp.   3.000
Wortel
Rp.   5.000
Tomat
Rp.  5.500
Buncis
Rp.  6.000
Daun bawang
Rp.  7.000

Responden keempat ( Ibu Pariyem ) adalah seorang pedagang kecil / eceran sayuran di baskoro Tembalang. Bu Pariyem membeli sayuran dagangannya dari pasar peterongan. Harga jual untuk setiap komoditi sayuran adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2. Harga Jual Tanaman Hortikultura Dari Pedagang kecil
Komoditi
Harga Jual / Kg
Cabe merah
Rp. 23.000
Kubis
Rp.   4.000
Wortel
Rp.   5.500
Tomat
Rp.  6.000
Buncis
Rp.  6.500
Daun bawang
Rp.  7.000


  

4.      Pembahasan
Sesuai dengan tujuan penelitian yang dibahas dalam bab ini adalah adanya hubungan antara pemasaran dan harga jual pada tanaman hortikultura.   Data yang dianalisis adalah data sekunder dan data hasil observasi dilapangan yang diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang pemasaran dan harga jual dari hasil tanaman hortikultura tersebut. Berdasarkan pengamatan hasil observasi lapangan ada hubungan yang erat antara pemasaran, pengepul dan penentuan harga. Petani tidak dapat memasarkan hasil produk tanaman hortikultura secara langsung kepada konsumen tetapi harus melalui pengepul. Harga yang diperoleh berdasarkan ketentuan dari pengepul dalam hal ini petani berlaku sebagai price taker dan pengepul sebagai price maker. Harga yang diberikan kepada petani sesuai dengan kualitas dari hasil pertanian dan kondisi dipasar. Bila cuacah buruk biasanya harga produk pertanian dihargai lebih tinggi karena dinilai langka atau sulit untuk mendapatkannya, sedangkan apabila cuacah baik produk pertanian dihargai rendah sesuai dengan kualitas produk pertanian tersebut. Petani tidak dapat menentukan harga karena hasil produk pertanian khususnya tanaman hortikultura merupakan tanaman yang mudah busuk sehingga besar resiko yang ditanggung bila produk pertanian tersebut tidak terjual pada hari itu. Sehingga petani akan memilih  menjual hasil produk pertanian dengan harga yang rendah atau murah dari pada produk tersebut membusuk dan tidak laku karena biaya produksi yang cukup tinggi sehingga bila petani tidak menjual maka ia akan merugi. Kurangnya lembaga atau organisasi pendukung petani juga merupakan salah satu penyebab mengapa harga pertanian menjadi rendah karena tidak ada pendukung petani untuk meningkatkan harga hasil dari produk pertanian tanaman hortikultura.



BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN

Pertanian di desa losari masih menggunakan teknologi yang tradisional tetapi tidak mengurangi kualitas untuk hasil pertanian itu sendiri. Dengan alat yang cukup dan pemeliharaan yang baik, maka hasil yang didapat menjadi baik pula. Pada dasarnya tanah dan pengairan di desa losari sudah cukup memadai untuk jenis produk holtikultura, dengan tanah yang subur dan pengairan yang lancar. Untuk pemasaran para petani memanfaatkan jasa para pengepul, padahal hal tersebut sangat merugikan petani, karena patokan harga dari tengkulak sangat rendah. Namun pada kenyataannya para pengepul menjual produk ke pasar dengan harga yang tinggi. Hal ini di sebabkan biaya pengangkutan yang mahal, sehingga laba yang diterima petani sangat minim dan petani sangat sulit untuk medapatkan modal.

B.     SARAN

Pertanian di desa ini sudah bagus, tetapi hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diperbaiki dalam upaya meningkatkan mutu dan  kualitas produktivitasdan  keuntungan usaha pertanian holtikultura diantaranya:
1.      Di adakannya penyuluhan yang berkesinambungan
2.      Penambahan alat – alat yang modern agar dapat meningkatkan perduktivitas
3.      Pemeliharaan yang maksimal harus diupayakan dan dikontrol terhadap proses pembudidayaan
4.      Mendorong peran tengkulak untuk membangun kerja sama yang adil dan peduli petani.
5.      Mengadakan outlet yang dapat kunjungi konsumen secara langsung .
6.      Merealisasikan subsidi pertanian yang tepat sasaran dan bersifat produktif
7.      Mendorong peran lembaga keungan untuk masuk sektor pertanian dengan skema yang menguntungkan petani.
 


DAFTAR PUSTAKA

Hortikultura.” Dalam Cyber anneahira. Diunduh Senin,  7 Mei  2012
Sito, Jakes. 2011. “Permasaran Hasil Pertanian.”  Dalam Cyber Wordpress.
Diunduh Senin, 7 Mei 2012 .
http://id.wikipedia.org/wiki/Hortikultura . “Pengertian Tanaman Hortikultura. ”
Dalam Wikipedia. Diunduh Selasa, 8 Mei 2012
http://ukmdiy.co.id/Files/pasar%20lelang.pdf . “komoditas argobisnis dari ladang
petani.” Diunduh Selasa,  8 Mei 2012
Handi Irawan. 2003. Manajemen Pemasaran. Bandung: Djaslim Saladin, Intisari
Pemasaran






Lampiran 1

Tabel 2.3. perbandingan harga jual tanaman hortikultura antara petani, tengkulak, pedagang besar serta pedagang kecil / eceran
Komoditi
Petani
Tengkulak
Pedagang besar
Pedagang kecil / eceran
Cabe merah
Rp.18.000
Rp. 20.000
Rp. 23.000
Rp. 23.000
Kubis (kol)
Rp.  1.000
Rp.   2.000
Rp.   3.000
Rp.   4.000
Wortel
Rp.     300
Rp.   3.000
Rp.   5.000
Rp.   5.500
Tomat
Rp.  4.000
Rp.  4.500
Rp.  5.500
Rp.  6.000
Buncis
Rp.  1.500
Rp.  5.000
Rp.  6.000
Rp.  6.500
Daun bawang
Rp.  1.500
Rp.  5.000
Rp.  7.000
Rp.  7.000













Tidak ada komentar:

Posting Komentar