PENGEMBANGAN INFRASTRUKRTUR PARIWISATA DI CURUG BENOWO
Disusun
oleh :
Atika
Dzulkhijiana 12020110110009
Martha
Caesaratih 1202011011001
Tito Aditya Perdana
1202011012000
Muhammad Imawan
12020110120033
Muhammad Anas 12020110130065
Bramudya Cesara Anugraha
12020110130070
ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pariwisata pada dasarnya , mampu menjadi
peran dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Hal ini terkait dengan potensi
keragaman nuansa alam dan budaya yang kita miliki. Hal tersebut menjadi upaya
untuk mengoptimalkan industri pariwisata serta dalam rangka peningkatan
pembangunan berkelanjutan.
Perkembangan kunjungan wisatawan asing
di Indonesia selama periode 1990–1996 rata-rata tumbuh sebesar 17,7%. Pada
tahun 1990 mencapai 2,178 juta wisatawan asing dengan perolehan devisa US$
2,105 milyar, sedangkan pada tahun 1996 meningkat lebih dari dua kali lipat
menjadi 5,19 juta wisatawan asing dengan perolehan devisa yang meningkat tiga
kali lipat yakni sebesar US$ 6,307 milyar. Namun seiring dengan krisis ekonomi
dan moneter yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 sektor
pariwisata mengalami penurunan yang cukup drastis. Penurunan arus kunjungan
wisatawan juga diikuti oleh melemahnya kegiatan pariwisata. Tahun 1999 adanya
perbaikan kinerja pariwisata Indonesia dengan pertumbuhan yang kembali positip
walaupun masih relatif kecil yaitu 2,6% dengan 4,73 juta kunjungan wisatawan
asing dengan perolehan devisa sebesar US$ 4,71 milyar.
Gunn (1988) mendefinisikan pariwisata
sebagai aktivitas ekonomi yang harus dilihat dari dua sisi yakni sisi
permintaan (demand side) dan sisi pasokan (supply side), lebih lanjut Gunn
mengemukakan bahwa keberhasilan dalam pengembangan pariwisata di suatu daerah
sangat tergantung kepada kemampuan perencana dalam mengintegrasikan kedua sisi
tersebut secara berimbang ke dalam sebuah rencana pengembangan pariwisata.
Untuk mencapai keberhasilan target pariwisata suatu daerah maka diperlukan ada
usaha-usaha yang dilakukan dengan mengatur sistem pariwisata yang memadai
berupa promosi dan infrastruktur serta pengembangan potensi-potensi pariwisata.
Pariwisata juga akan memberikan dampak
sosial bagi masyarakat. Dampak sosial tersebut diharapkan memberikan output
yang baik/positif. Untuk memperoleh dampak yang baik tersebut, pariwisata salah
satunya harus mampu menjadi perangkat dalam peningkatan suatu
kesejahteraan. Peningkatan kesejahteraan
pun akan tercipta melalui mekanisme untuk membangun dan mengembangkan
pariwisata sebagai basis sumber pendapatan masyarakat.
Namun dalam pengembangan pariwisata
tidak bisa memisahkan aspek satu dengan aspek yang lainnya, karena
karakteristik dari dunia pariwisata adalah adanya saling keterkaitan beberapa
aspek agar suatu pariwisata maju.
Kegiatan pariwisata juga tidak dapat dipisahkan dengan masalah
pergerakan manusia.
Pesatnya pertumbuhan pariwisata telah
menarik perhatian sejumlah besar daerah provinsi maupun kabupaten di indonesia
yang mencoba untuk menangkap porsi yang lebih besar dari kegiatan ekonomi
ini.mereka berlomba – lomba membangun infrastruktur transportasi dalam upaya
mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah wisatawan. Perjalanan
wisata sebagai bentuk kegiatan pariwisata tersebut tentu membutuhkan sarana dan
prasarana infrastruktur. Infrastruktur meliputi akses jalan atau transportasi
yang lancar, akomodasi, atraksi atau obyek wisata, kebersihan dan kesehatan,
dan lain-lain. Ketersediaan
infrastruktur akan memudahkan pengunjung untuk menuju lokasi wisata. Jika
sarana dan prasarana infratruktur buruk maka akan berdampak pada sedikitnya
jumlah pengunjung ke suatu lokasi wisata, dan apabila sarana dan prasarana
infrastruktur baik akan meningkatkan jumlah pengunjung ke suatu lokasi wisata.
Oleh karena itu, dalam karya tulis ini
kita akan membahas masalah pengembangan pariwisata curug benowo di semarang.
B.
Permasalahan
1.
Permasalahan tentang aksesbilitas yang
belum cukup memadai dalam perkembangan pariwisata curug Benowo.
2.
Fasilitas – fasilitas penunjang seperti
tempat makanan dan minuman, penginapan, tempat untuk menikmati curug Benowo
serta fasilitas pelengkap seperti toilet, tempar parkir, pusat informasi, souvenir
dan perlu adanya campur tangan pemerintah dalam mengembangkan curug Benowo.
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Mendeskripsikan infrastruktur yang ada
di wisata alam curug Benowo yang berada di desa Kalisidi Kecamatan Ungaran
Barat Kabupaten Semarang.
2.
Memperkenalkan curug benowo sebagai
salah satu referensi objek wisata di semarang khususnya daerah kalisidi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian Pariwisata
Menurut Undang – Undang pariwisata
No. 9 tahun 1990
mengenai kepariwisataan Bab 1 pasal 1 dijelaskan bahwa wisata
adalah kegiatan perjalanan atau sebagian
kegiatan tersebut yang
dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk
menikmati objek atau daya tarik wisata. dengan merujuk
pada pengertian yang terkandung pada UU No.9 Bab 1 Pasal 1 tersebut,
maka pariwisata sendiri adalah sebuah kata kerja aktif dimana unsur – unsur
didalamnya terdiri dari :
1.
Kegiatan perjalanan, maksudnya adalah
suatu kegiatan yang bisa dilakukan perseorangan ataupun perkelompok. Kegiatan
tersebut adalah mendatangi suatu tempat yang dituju atau tempat wisata.
2.
Dilakukan dengan sukarela maksudnya
adalah tidak ada paksaan untuk wisatawan yang datang ke tempat wisata.
3.
Bersifat sementara maksudnya wisatawan
yang datang hanya untuk berkunjung tanpa menjadi penduduk daerah tersebut.
Kalaupun menetap hanya beberapa hari atau satu minggu saja.
4.
Perjalanan dilakukan dengan tujuan untuk
menikmati objek.
pengertian objek dan daya tarik wisata menurut
Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 yaitu yang menjadi sasaran perjalanan wisata yang
meliputi :
a. Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan
alam serta flora dan fauna, seperti : pemandangan alam, panorama indah, hutan
rimba dengan tumbuhan hutan tropis, serta binatang-binatang langka.
b. Karya manusia yang berwujud museum, peninggalan
purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya, wisata agro (pertanian), wisata
tirta (air), wisata petualangan, taman rekreasi, dan tempat hiburan.
c. Sasaran wisata minat khusus, seperti : berburu,
mendaki gunung, gua, industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan, sungai air
deras, tempat-tempat ibadah, tempat-tempat ziarah dan lain-lain.
Menurut A.J. Burkart dan S. Medik (1987)
Pariwisata adalah perpindahan orang untuk sementara
dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan- tujuan diluar tempat dimana mereka biasanya
hlidup dan bekerja dan kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di tempat-tempat
tujuan itu.
Saya setuju dengan pendapat ini, namun ada beberapa di
tambah yakni menyangkut waktu yang dibutuhkan dan tujuan pariwisata
itu sandiri berdasarkan IUTO waktu yang ditetapkan untuk kegiatan
yang bisa disebut pariwisata setidaknya adalah 24 jam, dan tujuammya adalah
untuk mengisi waktu senggang, bisnis, keluarga, perutusan, dan
pertemuan-pertemuan.
Menurut Hunziger dan krapf dari swiss dalam Grundriss
Der Allgemeinen Femderverkehrslehre
Menyatakan pariwisata adalah keserluruhan jaringan dan
gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang asing disuatu tempat
dengan syarat orang tersebut tidak melakukan suatu pekerjaan yang penting
(Major Activity) yang memberi keuntungan yang bersifat permanent maupun
sementara.
Saya setuju dengan pendapat ini, karena pada dasarnya
pariwisata itu motif kegiatannya adalah untuk mengisi waktu luang, untuk
bersenang-senang, bersantai, studi, kegiatan Agama, dan mungkin untuk kegiatan
olahraga. Selain itu semua kegiatan tersebut dapat memberi keuntungan bagi
pelakunya baik secara fisik maupun psikis baik sementara maupun dalam jangka
waktu lama.
Menurut Prof. Salah Wahab dalam Oka A Yoeti (1994,
116.).
Pariwisata dalah suatu aktivitas manusia yang
dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara
orang-orang dalam suatu Negara itu sendiri/ diluar negeri, meliputi pendiaman
orang-orang dari daerah lain untuk sementara waktu mencari kepuasan yang
beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya, dimana ia memperoleh
pekerjaan tetap.
Menurut saya walaupun Definisi yang dikemukakan oleh
Prof Salah Wahab kalimatnya terkesan berbelit-belit namun isinya sudah mengacu
pada pengertian pariwisata itu sendiri. Karena memang pariwisata itu dilakukan
secara sadar dalam mendapatkan pelayanan berbeda dari biasanya baik diluar
negeri maupun didalam negeri guna mencari kepuasan.
B. Pengertian Wisatawan
Menurut UN. Convention Concerning Customs Facilites
For Touring (1954) Wisatawan adalah setiap orang yang datang disebuah Negara
karena alas an yang sah kecuali untuk berimigrasi dan yang tinggal
setidak-tidaknya 24 Jam dan selama-lamanya 6 Bulan dalam tahun yang sama.
Dalam pengertian ini wisatawan dibedakan berdasarkan waktu
dan tujuan yang disebut wisatawan adalah orang-orang yang berkunjung setidaknya
24 dan yang dating berdasarakan motivasi Mengisi waktu senggang seperti
bersenang, berlibur, untuk kesehatan, studi, keperluan agama, dan olahraga,
serta bisnis, keluarga, peurtusan, dan pertemuan-pertemuan.
Sedangkan ekskurionis adalah pengunjung yang hanya
tinggal sehari di Negara yang dikunjungi tanpa bermalam. Pengertian ini paling
banyak digunakan karena pembedanya tegas sehingga mudah dipahami antara
pengunjung yang bisa disebut wisatawan, dan pengunjung yang hanya ekskurisionis
saja.
C. Pengertian Kepariwisataan.
Kepariwisataan adalah hal-hal yang berhubungan dengan
pariwisata.
Hal-hal yang berhubungan dengan pariwisata hendaknya memenuhi syarat sapta
pesona pariwisata, yaitu :
1. AMAN
Wisatawan akan senang berkunjung ke suatu tempat
apabila merasa aman, tenteram, tidak takut, terlindungi dan bebas dari :
a.
Tindak
kejahatan, kekerasan, ancaman, seperti kecopetan, pemerasan, penodongan,
penipuan dan lain sebagainya.
b.
Terserang
penyakit menular dan penyakit berbahaya lainnya.
c.
Kecelakaan yang
disebabkan oleh alat perlengkapan dan fasilitas yang kurang baik, seperti
kendaraan, peralatan, untuk makan dan minum, lift, alat perlengkapan rekreasi
atau olah raga.
d.
Gangguan oleh
masyarakat, antara lain berupa pemaksaan oleh pedagang asongan tangan jail,
ucapan dan tindakan serta perilaku yang tidak bersahabat dan lain sebagainya.
Jadi, aman berarti tejamin keselamatan jiwa dan fisik,
termasuk milik (barang) wisatawan.
2. TERTIB
Kondisi yang tertib merupakan sesuatu yang sangat
didambakan oleh setiap orang termasuk wisatawan. Kondisi tersebut tercermin
dari suasana yang teratur, rapi dan lancar serta menunjukkan disiplin yang
tinggi dalam semua segi kehidupan masyarakat, misalnya :
a.
Lalu lintas
tertib, teratur dan lancar, alat angkutan datang dan berangkat tepat pada
waktunya.
b.
Tidak nampak
orang yang berdesakan atau berebutan untuk mendapatkan atau membeli sesuatu
yang diperlukan.
c.
Bangunan dan
lingkungan ditata teratur dan rapih.
d.
Pelayanan dilakukan
secara baik dan tepat.
e.
Informasi yang
benar dan tidak membingungkan.
3.
BERSIH
Bersih merupakan suatu keadaan/kondisi lingkungan yang
menampilkan suasana bebas dari kotoran, sampah, limbah, penyakit dan
pencemaran. Wisatawan akan merasa betah dan nyaman bila berada di tempat-tempat
yang bersih dan sehat seperti :
a.
Lingkungan yang
bersih baik di rumah sendiri maupun di tempat-tempat umum, seperti di hotel,
restoran, angkutan umum, tempat rekreasi, tempat buangair kecil/besar dan lain
sebagainya. Bersih dari sampah, kotoran, corat-coret dan lain sebagainya.
b.
Sajian makanan
dan minuman bersih dan sehat.
c.
Penggunaan dan
penyajian alat perlengkapan yang bersih seperti sendok, piring, tempat tidur,
alat olah raga dan lain sebagainya.
d.
Pakaian dan
penampilan petugas bersih, rapi dan tidak mengeluarkan bau tidak sedap dan lain
sebagainya
4.
SEJUK
Lingkungan yang serba hijau, segar, rapi memberi
suasana atau keadaan sejuk, nyaman dan tenteram. Kesejukan yang dikehendaki
tidak saja harus berada di luar ruangan atau bangunan, akan tetapi juga di
dalam ruangan, misalnya ruangan kerja/belajar, ruangan makan, ruangan tidur dan
lain sebagainya. Untuk itu hendaklah kita semua :
a.
Turut serta
aktif memelihara kelestarian lingkungan dan hasil penghijaun yang telah
dilakukan masyarakat maupun pemerintah.
b.
Berperan secara
aktif untuk menganjurkan dan memelopori agar masyarakat setempat melaksanakan
kegiatan penghijauan dan memelihara kebersihan, menanam berbagai tanaman di
halaman rumah masing-masing baik untuk hiasan maupun tanaman yang bermanfaat
bagi rumah tangga, melakukan penanaman poho/tanaman rindang di sepanjang jalan
di lingkungan masing-masing di halaman sekolah dan lain sebagainya.
c.
Membentuk
perkumpulan yang tujuannya memelihara kelestarian lingkungan.
d.
Menghiasi ruang
belajar/kerja, ruang tamu, ruang tidur dan tempat lainnya dengan aneka tanaman
penghias atau penyejuk.
e.
Memprakarsai
berbagai kegiatna dan upaya lain yang dapat membuat lingkungan hidup kita
menjadi sejuk, bersih, segar dan nyaman.
5. INDAH
Keadaan atau suasana yang menampilkan lingkungan yang
menarik dan sedap dipandang disebut indah. Indah dapat dilihat dari berbagai
segi, seperti dari segi tata warna, tata letak, tata ruang bentuk ataupun gaya
dan gerak yang serasi dan selaras, sehingga memberi kesan yang enak dan cantik
untuk dilihat.
Indah yang selalu sejalan dengan bersih dan tertib
serta tidak terpisahkan dari lingkungan hidup baik berupa ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa maupun hasil karya manusia.
Karena itu kita wajib memelihara lingkungan hidup agar
lestari dan dapat dinikmati oleh umat manusia.
6. RAMAH TAMAH
Ramah tamah merupakan suatu sikap dan perilaku
seseorang yang menunjukkan keakraban, sopan, suka membantu, suka tersenyum dan
menarik hati.
Ramah tamah tidaklah berarti bahwa kita harus
kehilangan kepribadian kita ataupun tidak tegas dalam menentukan sesuatu
keputusan atau sikat. Ramah, merupakan watak dan budaya bangsa Indonesia pada
umumnya, yang selalu menghormati tamunya dan dapat menjadi tuan rumah yang
baik. Sikap ramah tamah ini merupakan satu daya tarik bagi wisatawan, oleh
karena itu harus kita pelihara terus.
7. KENANGAN
Kenangan adalah kesan yang melekat dengan kuat pada
ingatan dan perasaan seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang
diperolehnya. Kenangan dapat berupa yang indah dan menyenangkan, akan tetapi
dapat pula yang tidak menyenangkan. Kenangan yang ingin diwujudkan dalam
ingatan dan perasaan wisatawan dari pengalaman berpariwisata di Indonesia,
dengan sendirinya adalah yang indah dan menyenangkan. Kenangan yang indah ini
dapat pula diciptakan dengan antara lain :
a.
Akomodasi yang
nyaman, bersih dan sehat, pelayanan yang cepat, tepat dan ramah, suasana yang
mencerminkan ciri khas daerah dalam bentuk dan gaya bangunan serta dekorasinya.
b.
Atraksi seni
budaya daerah yang khas dan mempesona baik itu berupa seni tari, seni suara dan
berbagai macam upacara.
c.
Makanan dan
minuman khas daerah yang lezat, dengan penampilan dan penyajian yang menarik.
Makanan dan minuman ini merupakan salah satu daya tarik yang kuat dan dapat
dijadikan jati diri (identitas daerah).
d.
Cenderamata yang
mungil yang mencerminkan ciri-ciri khas daerah bermutu tinggi, mudah dibawa dan
dengan harga yang terjangkau mempunyai arti tersendiri dan dijadikan bukti atau
kenangan dari kunjungan seseorang ke suatu tempat atau daerah atau Negara.
D.
Infrastruktur dalam
Pariwisata
Tersedianya sarana infrastruktur yang memadai seperti :
sarana angkutan (laut, darat dan udara), jalan raya, jembatan dan pos serta
telekomunikasi yang baik, maka arus wisatawan ke daerah-daerah tujuan wisata
dapat berjalan dengan baik dan lancar. Hal ini akan mempengaruhi kecenderungan
arus wisatawan tersebut menjadi stabil dan menuju pada peningkatan. Dampak
positif lain yang dapat dicapai adalah terbukanya daerah-daerah wisata yang
terisolir serta mobilitas penduduk ikut meningkat.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Kerangka Konsep
1.
Jenis dan Rancangan
Penelitian
Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
metode analisa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari instansi
terkait dan metode survei yang didukung dengan observasi lapangan
2.
Penentuan Daerah
Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten
Semarang. Adapun hal yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan lokasi ini
adalah :
1.
Daerah penelitian ini merupakan salah satu
daerah tujuan wisata alam yang berpotensi untuk dikembangkan dengan
infrastruktur sebagai komponennya.
2.
Daerah penelitian ini memiliki kondisi
Topografi yang bergunung, alami dan atraktif yang menarik dan berhawa sejuk.
B. Teknik pengumpulan data
1.
Pengumpulan data primer
Pengumpulan data primer diambil dengan
melakukan wawancara kepada para
pengunjung dengan memberikan kuesioner yang mencakup beberapa pertanyaan
mengenai kondisi infrastruktur yang ada di lokasi obyek wisata. Seperti sarana
dan prasarana menuju lokasi obyek,
fasilitas pendukung obyek dan kondisi
obyek. Adapun macam-macam data yang dikumpulkan adalah sebagai berikut:
1.1.
kondisi fisik dan daerah penelitian yang
meliputi letak dan luas, batas diperoleh dari Pemerintah Desa Kalisidi
Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang.
1.2.
Infrastruktur, meliputi jaringan listrik,
sarana air bersih, transportasi dan komunikasi, pelayanan sosial ekonomi yang
diperoleh dari data primer melalui kuesioner pengunjung.
2.
Pengumpulan data sekunder
Data
sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari artikel, dan jurnal –
jurnal ilmiah yang bersumber dari internet. Pengumpulan data sekunder dilakukan
dengan mencari data – data yang dicatat oleh suatu instansi.
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A.
Gambaran Umum Daerah Penelitian
Menurut data kuesioner dan pengumpulan
data obyek wisata Curug Benowo yang diperoleh dari Desa Kalisidi, Kecamatan
Ungaran Barat, Kabupaten Semarang,
peneliti dapat mengetahui kondisi fisik dan daerah penelitian yang meliputi letak
dan luas serat batas.
a.
Letak
Obyek
wisata curug Benowo terletak di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran
Barat, Kabupaten Semarang. Luas Desa Kalisidi sekitar 795,5 Ha, yang terdiri dari
sawah 1/2 irigasi sebesar 52,5 Ha, sawah tadah hujan sebesar 141,3 Ha, tanah tegalan
sebesar 175,7 Ha, pemukiman penduduk sebesar 90 Ha, perkebunan swasta sebesar
310 Ha, dan bengkok dan kas desa sebesar 45,8 Ha.
b.
Batas
Batas Desa
Kalisidi Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang sebelah selatan adalah Gunung Ungaran,
sebelah Timur adalah Desa Keji, sebelah Barat adalah Kabupaten Kendal, dan sebelah
Utara adalah Kota Semarang.
c.
Infrastruktur
Jaringan listrik di Desa Kalisidi Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang sudah cukup memadai sampai ke wilayah terpencil. Sarana air
bersih di Desa tersebut sudah mencukupi kebutuhan
penduduk di Desa Kalisidi. Sementara untuk fasilitas - fasilitas yang ada di
obyek wisata curug Benowo belum cukup memadai misalnya, aksesbilitas untuk menuju
ke Curug Benowo sendiri masih berupa jalan setapak dan hutan lebat.
Curug Benowo yang terletak di Desa
Kalisidi, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang memiliki jarak tempuh lebih
dari satu jam dari ibukota kabupaten Semarang dengan menggunakan kendaraan
pribadi. Memiliki potensi pemandangan alam yang indah. Tebing-tebing terjal dengan
jurang yang curam disertai dengan aliran sungai yang masih jernih karena
berasal dari gunung menambah indah lokasi obyek wisata Curug Benowo. Banyak pengunjung yang datang untuk menikmati
asri-nya pemandangan serta udara yang sejuk di dalam hutan, dan tidak sedikit
pula pengunjung yang sengaja datang untuk menikmati wisata petualangan dari
Curug Benowo. Namun potensi alam yang indah tidak didukung dengan sarana dan prasarana
infrastruktur yang ada. Dari pihak pengelola sendiri baru
sedikit dalam melakukan usaha – usaha pariwisata untuk mengembangkan potensi
yang dimiliki oleh Curug Benowo. Usaha – usaha yang dilakukan antara lain
:
-
Promosi
-
Perbaikan jalan dan jembatan
-
Akomodasi
-
Pemandu Wisata
-
Atraksi
-
Kebersihan dan keamanan
Infrastruktur yang terdapat di wilayah
Desa Kalisidi Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang, selama ini
belum mendukung fasilitas yang ada di
lokasi obyek wisata curug Benowo karena
belum tersedianya angkutan umum menuju
lokasi wisata Curug Benowo. Sarana dan prasarana jalan menuju obyek wisata yang
masih belum memadai untuk pengembangan pariwisata di curug Benowo ini sehingga
permintaan pengunjung ke Curug Benowo belum terlalu optimal.
Sementara untuk jalan menuju ke curug
benowo hanya ada jalan setapak yang sangat berbahaya, pengunjung harus berjalan
ekstra hati-hati untuk dapat menuju curug benowo, karena memerlukan pengamanan yang ketat. Akses untuk menuju lokasi sangat berbahaya karena jalan
sempit dan tidak ada pagar, dikelilingi jurang dan sungai. Jika hujan lebat,
maka sudah dipastikan pengunjung tidak bisa menuju lokasi curug maupun
kembali menuju pintu masuk, karena jalan yang dilewati licin dan rawan untuk
tertimpa pohon atau terjatuh ke jurang atau sungai.
Untuk transportasi juga hanya bisa
ditempuh sampai ujung desa, sedangkan dari ujung desa ke lokasi curug tidak ada angkutan umum.
Karena dari pemerintah setempat tidak menyediakan angkutan umum untuk ke lokasi
obyek wisata. Banyak pengunjung menggunakan kendaraan pribadi.
Infrastruktur yang lain seperti
fasilitas pemenuhan kebutuhan fisik seperti penginapan, dan bangunan untuk menikmati
obyek wisata masih masih belum tersedia sedangkan untuk fasilitas warung dan
tempat beristirahat hanya tersedia satu sampai dua jenis fasilitas, itupun
berada di pintu masuk. Dengan kata lain, selama perjalanan dari pintu masuk
Curug Benowo sampai Air Terjun Curug Benowo tidak ada warung penjual makanan
dan minuman atau pengunjung harus membawa bekal sendiri untuk memenuhi
kebutuhan fisik mereka.
Sedangkan untuk fasilitas pemenuhan
kebutuhan sosial wisatawan seperti taman terbuka dan atraksi seni dan budaya
tidak tersedia, jadi wisatawan yang datang ke Curug Benowo murni melakukan
kunjungan wisata untuk menikmati pemandangan alam ataupun untuk melakukan
wisata petualangan.
Demikian pula halnya dengan fasilitas
pelengkap seperti tempat parkir, toilet, musholla, pusat informasi, dan toko
souvenir. Untuk tempat parkir, toilet, dan musholla terdapat di pintu masuk
Curug Benowo. Pusat informasi hanya tersedia di pos satpam dengan narasumber penjaga yang merangkap menjaga
tempat parkir, menjaga Curug Benowo, dan ticketing. Penjaganya sendiri untuk
hari-hari biasa terdapat satu hingga dua penjaga di lokasi wisata, sedangkan
untuk hari-hari libur dan hari besar terdapat tiga sampai lima penjaga di
lokasi wisata. Selain itu untuk mendapat informasi yang lebih detail bisa
mencari informasi di Kepala Desa, Desa Kalisidi. Papan petunjuk jalan juga
masih minim, karena hanya tersedia ketika ada jalan yang bercabang.
Dan yang terakhir mencakup promosi,
pemandu wisata, dan kebersihan serta kesehatan. Promosi merupakan media untuk
memperkenalkan suatu obyek agar obyek tersebut lebih dikenal oleh masyarakat
umum. Melalui promosi, obyek pariwisata bisa menarik individu untuk mengunjungi
obyek pariwisata tersebut, begitu juga dengan Curug Benowo. Curug Benowo dari
pihak pengelola sudah melakukan promosi, namun promosi yang dilakukan kurang
maksimal karena yang terkenal adalah ”tetangga” dari Curug Benowo yaitu Curug
Lawe. Namun, dari pihak pengelola menambahkan untuk promosi tidak ingin terlalu
”besar’ karena Curug Benowo memang dikhususkan untuk wisata petualangan bukan
wisata keluarga ataupun wisata untuk menikmati pemandangan bersama keluarga.
Banyaknya wisatawan yang datang ini
dikhawatirkan oleh pihak pengelola melihat sarana dan prasarana infrastruktur
yang ada belum sepenuhnya maksimal, ditakutkan akan memakan korban karena
banyaknya wisatawan akan menambah jumlah kecelakaan, entah terpeleset karena
jalan yang sempit dan curam serta berbahaya. Selain itu tidak adanya pemandu
wisata juga membuktikan kalau obyek wisata Curug Benowo merupakan wisata
petualangan, karena cocok untuk individu yang memiliki jiwa petualang dengan
menjelajahi hutan dan mencari arah untuk menuju lokasi obyek wisata da bagi
wisatawan tidak perlu takut untuk berpetualang karena telah ada penunjuk jalan
menuju obyek. Yang perlu dilakukan oleh wisatawan selain tidak perlu takut
untuk menjelajahi obyek wisata tersebut, tapi juga menjaga kebersihan dan
kesehatan lingkungan sekitar Curug Benowo.
Lokasi wisata yang masih alami dan belum ada campur
tangan dari pihak pemerintah dan hanya dikelola oleh Desa Kalisidi ini akan
sia-sia jika tidak dikembangkan potensi pariwisatanya. Meskipun dari pihak
pengelola telah menjadikan Curug Benowo sebagai wisata petualangan, tetapi dari
pihak pengelola harus melestarikan dan melakukan pengembangan sarana prasarana
infrastruktur agar dapat memudahkan wisatawan untuk mencapai lokasi Curug
Benowo. Pengembangan dan pelestarian Curug Benowo akan terwujud apabila
pemerintah memberikan bantuan dana yang memang dialokasikan untuk perbaikan dan
pelestarian suatu obyek wisata, sehingga dana itu akan sangat membantu dalam
pengembangan pariwisata di suatu obyek wisata. Selain itu dari pihak pengelola
menggalakkan berbagai pertunjukkan seni dan kebudayaan lokal yang dimiliki oleh
daerah Curug itu berada. Jika dikemas secara baik dalam bentuk pertunjukkan
seni dan kebudayaan, bentuk-bentuk kegiatan kebudayaan lokal tersebut akan
menghasilkan dua keuntungan sekaligus. Pada satu sisi pertunjukkan
tersebut memiliki nilai komersiil untuk pariwisata dan pada sisi lain memiliki
nilai pelestarian kebudayaan.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan pihak-pihak
terkait untuk menggalakkan kembali pertunjukkan seni dan kebudayaan lokal. Salah satu di antaranya adalah dengan
mengalokasikan anggaran promosi pariwisata untuk berbagai pertunjukkan
tersebut. Anggaran promosi pariwisata tersebut sebenarnya hanya
sebagai sarana pemicu untuk menggali sumber dana lain seperti swadaya
masyarakat, sponsor, dan para donatur. Jika tersedia anggaran rutin untuk
kegiatan semacam itu, dapat diyakini bahwa pertunjukkan seni dan kebudayaan lokal akan berjalan secara rutin.
Cara lain adalah dengan menjadwalkan peristiwa-peristiwa tersebut dalam agenda
pariwisata daerah. Kegiatan yang teragendakan dengan baik akan memberikan
jaminan bahwa sebuah festifal kebudayaan tidak akan kekurangan pengunjung.
Antusiasme pengunjung akan memberikan semangat tersendiri bagi penduduk
setempat untuk lebih bekerja keras lagi dalam menyajikan potensi kebudayaan
daerahnya sendiri. Jika sudah demikian, sektor pariwisata dapat berkembang
dengan baik dan kebudayaan setempat dapat tetap terpelihara.
Kemudian perlunya revitalisasi Curug sebagai pusat pariwisata. Sebagai pusat pariwisata
pengelola harus menjaga kelestarian lingkungan agar lokasi obyek wisata terawat
sarana prasarananya dan terjaga kebersihannya. Revitalisasi Curug sebagai pusat
pariwisata akan terbentuk dengan adanya tim pemantau pengembangan
pariwisata. Tim pemantau ini bertugas
untuk menciptakan keselarasan pembangunan pariwisata di Curug agar berbagai
kepentingan dapat terakomodasikan tanpa ada yang dirugikan. Kepentingan
pelestarian kebudayaan akan terkesan sia-sia jika harus mengorbankan kepentingan
ekonomis masyarakat. Karena menyangkut berbagai kepentingan, sebaiknya tim ini
berasal dari berbagai elemen masyarakat, termasuk di dalamnya para pelaku
kebudayaa.
Saran
1.
Melestarikan dan melakukan pengembangan
prasarana infrastruktur.
2.
Menggalakan berbagai festival kebudayaan
lokal yang dimiliki oleh desakalisidi sekitar curug benowo.
3.
Pembentukan tim pemantau pengembangan
pariwisata oleh perhutani.
PENUTUP
Pariwisata menjadi peran dalam
pembangunan ekonomi di Indonesia karena potensi keragaman nuansa alam dan
budaya yang Indonesia miliki sangat beragam. Hal tersebut menjadi upaya untuk
mengoptimalkan industri pariwisata serta dalam rangka peningkatan pembangunan
berkelanjutan.
Salah satu yang mendukung peningkatan
pembangunan adalah sektor infrastruktur yang mencakup aksesibilitas, sarana dan
prasarana untuk kebutuhan kebutuhan fisik, kebutuhan sosial, dan kebutuhan
fasilitas pelengkap. Baik buruknya infratruktur akan mempengaruhi permintaan
pengunjung. Semakin baik penyediaan infratrsuktur akan meningkatkan permintaan
pengunjung, dan sebaliknya semakin buruk penyediaan infrstruktur akan
menurunkan permintaan pengunjung untuk berwisata di suatu obyek wisata.
Untuk lokasi wisata di Curug Benowo,
infrastruktur yang kurang memadai membuat wisatawan enggan untuk mengunjungi
lokasi wisata tersebut. Selain itu pengelolaan tempat wisata tidak berjalan
dengan baik karena kurangnya biaya
operasional ,dana pemasukan tidak sesuai dengan biaya operasional karena
pemerintah tidak memberikan perhatian kepada lokasi tersebut.
Pemerintah
setempat sebaiknya lebih memperhatikan dan memfokuskan pada ekonomi pariwisata
Curug Benowo, karena Curug Benowo merupakan wisata potensial yang belum dimaksimalkan.
pihak pengelola harus melestarikan dan melakukan pengembangan sarana prasarana
infrastruktur agar dapat memudahkan wisatawan untuk mencapai lokasi Curug
Benowo. Selain itu dari pihak pengelola menggalakkan berbagai festival
kebudayaan lokal yang dimiliki oleh daerah Curug itu berada. Kemudian perlunya revitalisasi Curug sebagai pusat pariwisata.
Dan yang terakhir adalah pembentukan tim pemantau pengembangan
pariwisata, tim pemantau ini bertugas
untuk menciptakan keselarasan pembangunan pariwisata di lokasi obyek wisata
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
“Wisata
Ke Curug Lawe” Dalam Cyber Blogspot. Diunduh Selasa, 15 Mei 2012.
Selasa,
15 Mei 2012
Pariwisata” Dalam Cyber
Wordpress. Diunduh Selasa, 15 Mei 2012
Saiful, Andy.2009. “Pengertian Pariwisata”, Dalam
Cyber Blogspot. http://andy
2012.